Praktikum pemuliaan tanaman
Korelasi dan Regresi
Di susun Oleh :
Hendrik ( 10011006 )
FAKULTAS AGROINDUSTRI
PRODI AGROTEKNOLOGI
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA
2012
Latar
Belakang
Tujuan
pemuliaan tanaman adalah untuk
mendapatkan tanaman yang lebih baik, oleh karena itu pengetahuan yang cukup
mengenai tanaman yang bersangkutan sangat diperlukan sifat tanaman tersebut
meliputi sifat morfologis, anatomis maupun fisiologis.
Kenyataan menunjukkan bahwa diantara sifat-sifat yang ada pada tanaman sering kali ada hubungannya satu dengan yang lain. Adanya hubungan diantara sifat-sifat tanaman ini sangat membantu usaha-usaha pemuliaan tanaman khususnya dalam pekerjaan seleksi.Agar langkah-langkah yang ditempuh dalam rangkap usaha pemuliaan tanaman tepat, maka derajat hubungan yang ada diantara sifat-sifat perlu diketahui. Untuk itu, sangat diperlukan adanya data-data yang akurat.Derajat hubungan antara dua sifat tanaman biasanya dinyatakan dengan suatu bilangan yang disebut koefisien korelasi. Besarnya koefisien korelasi telah ditentukan yaitu antara –1 sampai +1.Koefisien korelasi digolongkan menjadi dua macam yaitu koefisien korelasi negatif dan koefisien korelasi positif. Koefisien korelasi negatif bila derajat hubungan antara dua sifat menunjukkan hal yang berlawanan. Artinya bertambahnya nilai sifat yang satu akan diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang lain. Koefisien korelatif positif bila derajat hubungan antara dua sifat tanaman menunjukkan hal yang nyata, artinya bertambahnya nilai sifat satu diikuti oleh bertambahnya nilai sifat yang lain. Sebaliknya, berkurangnya nilai sifat yang satu akan diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang lain. Sedangkan apabila koefisien korelasi = 0 berarti tidak ada hubungan sama sekali antara kedua sifat tersebut. Khusus sifat-sifat kualitatif pada koefisien korelatif = 1. Misal pada kedelai, apabila hipokotil ungu, maka warna bunga akan ungu. Sedangkan bila hipokotil hijau sebaliknya, maka bunganya akan berwarna putih.
Kenyataan menunjukkan bahwa diantara sifat-sifat yang ada pada tanaman sering kali ada hubungannya satu dengan yang lain. Adanya hubungan diantara sifat-sifat tanaman ini sangat membantu usaha-usaha pemuliaan tanaman khususnya dalam pekerjaan seleksi.Agar langkah-langkah yang ditempuh dalam rangkap usaha pemuliaan tanaman tepat, maka derajat hubungan yang ada diantara sifat-sifat perlu diketahui. Untuk itu, sangat diperlukan adanya data-data yang akurat.Derajat hubungan antara dua sifat tanaman biasanya dinyatakan dengan suatu bilangan yang disebut koefisien korelasi. Besarnya koefisien korelasi telah ditentukan yaitu antara –1 sampai +1.Koefisien korelasi digolongkan menjadi dua macam yaitu koefisien korelasi negatif dan koefisien korelasi positif. Koefisien korelasi negatif bila derajat hubungan antara dua sifat menunjukkan hal yang berlawanan. Artinya bertambahnya nilai sifat yang satu akan diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang lain. Koefisien korelatif positif bila derajat hubungan antara dua sifat tanaman menunjukkan hal yang nyata, artinya bertambahnya nilai sifat satu diikuti oleh bertambahnya nilai sifat yang lain. Sebaliknya, berkurangnya nilai sifat yang satu akan diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang lain. Sedangkan apabila koefisien korelasi = 0 berarti tidak ada hubungan sama sekali antara kedua sifat tersebut. Khusus sifat-sifat kualitatif pada koefisien korelatif = 1. Misal pada kedelai, apabila hipokotil ungu, maka warna bunga akan ungu. Sedangkan bila hipokotil hijau sebaliknya, maka bunganya akan berwarna putih.
Korelasi yang sempurna jarang terjadi pada sifat-sifat
kuantitatif, karena lingkungan sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat
tersebut. Contohnya, hubungan antar tinggi tanaman dengan bobot tanaman.
Tanaman yang tinggi belum tentu bobotnya akan tinggi, sebaliknya yang pendek
belum tentu bobotnya akan rendah. Koefisien korelasi dapat digunakan untuk
mengetahui tingkat kemiripan (resemblance) dalam variabilitas antara tanaman
induk dengan keturunannya, misal sifat daya hasil tinggi, jumlah anakan dan
sebagainya. Analisis korelasi dari sifat-sifat tersebut akan dapat diketahui
tingkat kemiripan antara tetua dan keturunannya.
Ditinjau dari sifat-sifat yang berhubungan, korelasi dapat
dibedakan menjadi tiga yaitu :
1. Korelasi sederhana, yaitu apabila satu sifat, dipengaruhi oleh
sifat yang lain, misalnya panjang malai dengan banyaknya gabah per malai pada
tanaman padi.
2. Korelasi partial, yaitu apabila dua sifat dipengaruhi oleh
sifat-sifat yang lain, misalnya tingginya produksi dan tingginya sterilitas
biji dipengaruhi oleh bobot malai dan serangan penyakit.
3. Korelasi berganda yaitu bila satu sifat dipengaruhi oleh banyak
sifat yang lain, misalnya daya hasil dipengaruhi oleh sifat banyak anakan,
ketahanan rebah, ketahanan terhadap hama dan penyakit, respon terhadap
pemupukan dan sebagainya.
Perkembangan dalam bidang genetika dan
pemuliaan tanaman perlu didukung oleh perkembangan analisis statistika
yang handal. Percobaan lokasiganda (multilocation) memainkan peranan penting
dalam pengembangbiakantanaman (plant breeding) dan penelitian-penelitian
agronomi. Faktor-faktor yang seringdilibatkan dalam pembaan lokasiganda secara garis besarnya
dapat dibedakan menjadi dua yaitu genotif dan lokasi. Faktor lokasi
sudah mencakup tempat (site), tahun, perlakuan agronomi(pemupukan,
penyemprotan dan laimya) atau kombinasinya. Analisis statistik yang
biasa diterapkan
pada percobaan
uji daya hasil adalah analisis ragam (ANOVA), dan analisis komponen
utama (AKU). Analisis ini kurang memadai dalam menganalisis keefektifan
struktur data yang kompleks (Bradu dan Gabriel, 1978; Kempton, 1984). Analisis
ragam merupakan suatu model aditif yang hanya menerangkan keefektifan pengaruh
utama (Snedecor dan Cochran, 1980). Anova mampu menguji interaksi tetapi tidak mampu
menentukan pola genotif atau lingkungan untuk meningkatkan interaksi. Sedangkan
pada analisis komponen utama hanya efektif menjelaskan pengaruh interaksi tanpa
menerangkan pengaruh utamanya. Dengan dernikian untuk memperoleh
gambaran secara lebih luas dari struktur data faktorial maka diperlukan
pendekatan lain. Beberapa pendekatan yang sedang dikembangkan antara lain
pendekatan yang dikemukan oleh Yates dan Cochran (1938), Finlay dan
Wilkinson (1963) serta Eberhart dan Ruse11 (1966) dalam Singh
(1979) yaitu dengan pendekatan model regresi linear untuk menerangkan pengaruh
interaksi yang digabungkan dengan komponen aditif pengaruh utama. Pendekatan
yang lain yaitu metode yang dikenal dengan nama AMMl (Additive Main
Egects and Multiplicative Interaction). Model ini merupakan gabungan dari
pengaruh aditif pada analisis ragam dan pengaruh multiplikasi pada analisis
komponen utama (Gauch dan Zobel 1990).
TUJUAN
Melakuan identifikasi pada bawang merah
yang meliputi Diameter/Umbi dan bobot/umbi
METODE
PRAKTIKUM
ALAT
DAN BAHAN
1. Bawang
merah 30 biji
2. Timbangan
3. Alat
tulis
CARA
KERJA
1. Ambil
nasi dengan 3 jenis varietas lalu dilakukan uji rasa dari setiap varietas lalu
kasih skoring pada tiap-tiap nasi tersebut
2. Pada
biji bawang merah lakukan pengukuran dari bobot/umbi dan diameter /umbi
3. Lakukanah
analisis
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Tanaman
Bawang Merah
Jumlah
diameter / umbi (x) vs bobot/umbi (y)
|
sampel
|
Diameter
/umbi (x)
|
Bobot /umbi
(y)
|
x2
|
y2
|
x.y
|
|
1
|
12,4
|
6,4
|
79,36
|
153,76
|
79,36
|
|
2
|
11,3
|
5
|
56,5
|
127,69
|
56,5
|
|
3
|
11,4
|
5,8
|
66,12
|
129,96
|
66,12
|
|
4
|
11,1
|
5,7
|
63,27
|
123,21
|
63,27
|
|
5
|
12,4
|
5
|
62
|
153,76
|
62
|
|
6
|
15,2
|
9
|
136,8
|
231,04
|
136,8
|
|
7
|
13,4
|
5,9
|
79,06
|
179,56
|
79,06
|
|
8
|
10,2
|
5,8
|
59,16
|
104,04
|
59,16
|
|
9
|
12,4
|
5,8
|
71,92
|
153,76
|
71,92
|
|
10
|
14,1
|
5,3
|
74,73
|
198,81
|
74,73
|
|
11
|
5,1
|
2,7
|
13,77
|
26,01
|
13,77
|
|
12
|
6,2
|
3,5
|
21,7
|
38,44
|
21,7
|
|
13
|
8,4
|
5,2
|
43,68
|
70,56
|
43,68
|
|
14
|
10,2
|
7
|
71,4
|
104,04
|
71,4
|
|
15
|
5,2
|
4,9
|
25,48
|
27,04
|
25,48
|
|
16
|
12,8
|
2,5
|
32
|
163,84
|
32
|
|
17
|
11,3
|
6
|
67,8
|
127,69
|
67,8
|
|
18
|
15,2
|
5,2
|
79,04
|
231,04
|
79,04
|
|
19
|
17,4
|
5,7
|
99,18
|
302,76
|
99,18
|
|
20
|
12,5
|
7
|
87,5
|
156,25
|
87,5
|
|
21
|
14,7
|
5,8
|
85,26
|
216,09
|
85,26
|
|
22
|
13,3
|
9
|
119,7
|
176,89
|
119,7
|
|
23
|
10,3
|
5,7
|
58,71
|
106,09
|
58,71
|
|
24
|
10,6
|
5,9
|
62,54
|
112,36
|
62,54
|
|
25
|
10,3
|
6
|
61,8
|
106,09
|
61,8
|
|
26
|
10
|
4,8
|
48
|
100
|
48
|
|
27
|
12,4
|
3
|
37,2
|
153,76
|
37,2
|
|
28
|
6,2
|
5,6
|
34,72
|
38,44
|
34,72
|
|
29
|
12,8
|
4,6
|
58,88
|
163,84
|
58,88
|
|
30
|
12,4
|
6,8
|
84,32
|
153,76
|
84,32
|
|
∑
|
341,2
|
166,6
|
1941,6
|
4130,58
|
4130,58
|
|
|
11.373
|
5.553
|
65.72
|
138.686
|
137.686
|
1. Koefisien Kolerasi
r.
=
=
=
T. hit =
n-1 30 – 2
=
28 28
=
Koefesien
Regreasi
b. =
= 56843.9 – ( 341.2 ) ( 166.6 )
30
= 56843.9 -
56843.9 -
1941.6 -
=
=
a = ∑ y – b. ∑ x
= 11.373 – (
. 5.553 )
= 11.373 –( 11.472498)
= - 0.099498
y = a + b.x
xo = -0.099489 + 2.066.o
= 1.9665
X1 = -0.099489 + 2.066.1
= 1.96651
X2 = -0.099489 + 2.066 .2
= 4.0325
X3 = - 0.099489 + 2.066.3
= 5.2030
2. Standar
error
∑d
y =
=
-
30 30
=
=
30
(
4130.58 – 56843,92 )
30
(
1941,6 – 116417,4)
30
= ( 4130,58 –
925,185) =
)
=
3205.395 -
=
3205.395- 0,1876 = 3205,20
3.
=
n-2
4.
=
y x =
=
1941.6 30
=
=
=
=
PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan dan perhitungan pada praktikum
kali ini didapatkan hasil bahwa angka atau nilai yang menunjukkan hubungan yang
ada antara dua sifat didalam suatu tanaman yang digunakan sebagai bahan praktikum
yaitu pada tanaman bawang merah didapatkan nilai koefisien korelasi antara
bobot/umbi dan diameter/umbi didapatkan hasil
, yang menunjukkan bahwa hubungan tersebut masih
jauh dari hubungan positif yang sempurna. Sedangkan pada hubungan antara jumlah
bobot/umbi dengan diameter/umbi 2.066 dan hubungan antara diameter/umbi dengan
bobot/umbi sangat mempengaruhi berarti antara bobot dengan diameter sangat
mempengaruhi sehingga berdasarkan teori kedua sifat yang berhubungan tersebut
memiliki hubungan positif yang sempurna. Oleh karena itu titik-titik yang
menyatakan hubungan antara x dan y pada diagram akan terletak pada satu garis
dengan sudut kemiringan positif. Apabila nilai dari koefisien korelasi
mendekati positif yang sempurna maka nilai T hit. lebih besar dari nilai T
tab., sehingga ada beda nyata antara keduanya. Sedangkan pada koefisien regresi
dan standar error nilainya adalah negative atau tiak ada beda nyata.
Pada perhitungan koefisien korelasi pada tanaman
bawang merah untuk hubungan bobot/umbi
dengan diameter/umbi mencapai 2,066 dan hubungan antara jumlah baris sehingga
kedua hubungan menunjukkan hubungan yang positif. Untuk nilai koefisien regresi
dan standar error ada beda nyata .
tanaman bawang merah mampu berproduksi tinggi bila mendapatkan
suhu dan kelembaban yang relatif stabil.
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum kali ini dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut ;
Ø
Korelasi dan regresi dapat digunakan untuk
mngetahui hubungan antara dua sifat tanaman atau lebih.
Ø
Suatu sifat tanaman dapat berpengaruh mendukung
atau berlawanan terhadap sifat yang lain.
Ø
Pada hasil tanaman untuk pada bawang merah nialai
koefisien korelasi 1068,09 dan reresinya 2,066 ini menunjukkan bahwa hubungan antara 2 sifat
saling mempengaruhi
Ø
Koefisien regresi menunjukkan tingkat pengaruh
suatu sifat terhadap sifat yang lain.
Ø
Dari hasil perhitungan antra dua hubungan
tersebut ada yang nyata dan tidak nyata.
DAFTAR PUSTAKA
Allard, R .W, 1988 pemuliaan
tanaman. Bina aksara. Jakarta.
Anonim, 2000. Petunjuk Praktikum pemuliaan tanaman.
Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar