| Penyakit Tungro dan Pengendaliannya Pada Tanaman Padi | Array Cetak Array |
| Artikel |
| Oleh Lalu Wirajaswadi |
| Rabu, 23 Juni 2010 18:07 |
Pendahuluan Upaya
peningkatan produktivitas padi mendukung P2BN dalam dua tahun terakhir
ini banyak mengalami kendala terutama akibat faktor alami seperti
perubahan iklim dan serangan hama penyakit. Salah satu jenis penyakit
penting adalah virus tungro yang oleh petani di daerah endemis P. Lombok
lebih dikenal dengan “Penyakit Kuning”, di Lombok Timur dikenal dengan
“Rogak Abang” Serangan penyakit tungro seringkali berakibat fatal,
karena tanaman terserang tidak dapat membentuk malai, dan sangat sulit
dikendalikan.
Penyakit tungro mulai ditemukan di Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak tahun 1972, bersamaan dengan munculnya penyakit tungro di Jawa,
Bali dan Sulawesi Selatan. Ledakan penyakit tungro terbesar terjadi di
Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur pada areal seluas lebih dari
10.000 ha tahun 1999. Kerusakan tanaman akibat tungro terus-menerus
ditemukan khususnya di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok
Timur, Sumbawa, Dompu dan Bima, dengan intensitas serangan yang beragam.
Kondisi ini perlu segera diatasi agar ledakan penyakit dapat dihindari
yakni melalui pengelolaan tanaman yang benar dan pengendalian yang
terintegrasi.
Penyebab Penyakit dan Penularannya
Tungro
disebabkan oleh dua jenis virus yang berbeda yaitu virus bentuk batang
Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV) dan virus bentuk bulat Rice Tungro
Spherical Virus (RTSV). Kedua jenis virus tersebut tidak memiliki
kekerabatan serologi dan dapat menginfeksi tanaman secara bersama-sama.
Virus tungro hanya ditularkan oleh wereng hijau (sebagai vektor) tidak
terjadi multiplikasi dalam tubuh wereng dan tidak terbawa pada
keturunananya. Sejumlah species wereng hijau dapat menularkan virus
tungro, namun Nephotettix virescens merupakan wereng hijau yang
paling efisien sehingga perlu diwaspadai keberadaannya. Penularan virus
tungro dapat terjadi apabila vektor memperoleh virus setelah mengisap
tanaman yang terinfeksi virus kemudian berpindah dan mengisap tanaman
sehat tanpa melalui periode laten dalam tubuh vektor.
Gejala Serangan
Secara
morfologis tanaman padi yang tertular virus tungro menjadi kerdil, daun
berwarna kuning sampai kuning jingga disertai bercak-bercak berwarna
coklat. Perubahan warna daun di mulai dari ujung, meluas ke bagian
pangkal. Jumlah anakan sedikit dan sebagian besar gabah hampa. Infeksi
virus tungro juga menurunkan jumlah malai per rumpun, malai pendek
sehingga jumlah gabah per malai rendah. Serangan yang terjadi pada
tanaman yang telah mengeluarkan malai umumnya tidak menimbulkan
kerusakan fatal.
Tinggi
rendahnya intensitas serangan tungro ditentukan oleh beberapa faktor
diantaranya: ketersediaan sumber inokulum (tanaman terserang), adanya
vektor (penular), adanya varietas peka dan kondisi lingkungan yang
memungkinkan, namun keberadaan vektor yang mengandung virus adalah
faktor terpenting. Intensitas penyakit tungro juga dipengaruhi oleh
tingkat ketahanan varietas dan stadia tanaman. Tanaman stadia muda,
sumber inokulum tersedia dan populasi vektor tinggi akan menyebabkan
tingginya intensitas serangan tungro. Ledakan tungro biasanya terjadi
dari sumber infeksi yang berkembang pada pertanaman yang tidak serempak.
Pengendalian penyakit
Pada
prinsipnya penyakit tungro tidak dapat dikendalikan secara langsung
artinya, tanaman yang telah terserang tidak dapat disembuhkan.
Pengendalian bertujuan untuk mencegah dan meluasnya serangan serta
menekan populasi wereng hijau yang menularkan penyakit. Mengingat
banyaknya faktor yang berpengaruh pada terjadinya serangan dan
intensitas serangan, serta untuk mencapai efektivitas dan efisiensi,
upaya pengedalian harus dilakukan secara terpadu yang meliputi :
1. Waktu tanam tepat
Waktu
tanam harus disesuaikan dengan pola fluktuasi populasi wereng hijau
yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu. Waktu tanam diupayakan
agar pada saat terjadinya puncak populasi, tanaman sudah memasuki fase
generatif (berumur 55 hari atau lebih). Karena serangan yang terjadi
setelah masuk fase tersebut tidak menimbulkan kerusakan yang berarti.
2. Tanam serempak
Upaya
menanam tepat waktu tidak efektif apabila tidak dilakukan secara
serempak. Penanaman tidak serempak menjamin ketersediaan inang dalam
rentang waktu yang panjang bagi perkembangan virus tungro, sedangkan
bertanam serempak akan memutus siklus hidup wereng hijau dan keberadaan
sumber inokulum. Penularan tungro tidak akan terjadi apabila tidak
tersedia sumber inokulum walaupun ditemukan wereng hijau, sebaliknya
walaupun populasi wereng hijau rendah akan terjadi penularan apabila
tersedia sumber inokulum.
3. Menanam varietas tahan
Menanam
varietas tahan merupakan komponen penting dalam pengendalian penyakit
tungro.Varietas tahan artinya mampu mempertahankan diri dari infeksi
virus dan atau penularan virus oleh wereng hijau. Walaupun terserang,
varietas tahan tidak menunjukkan kerusakan fatal, sehingga dapat
menghasilkan secara normal. Sejumlah varietas tahan yang dianjurkan
untuk daerah NTB antara lain: Tukad Patanu, Tukad Unda, Bondoyudo dan
Kalimas. IR-66, IR-72 dan IR-74. Sejumlah varietas Inpari yang baru
dilepas juga dinyatakan tahan tungro. Hasil penelitian di daerah endemis
membuktikan Tukad Unda cukup tahan dengan intensitas serangan
0,0%-9,14% sedangkan varietas peka IR-64 berkisar 16,0%-79,1%.
Penelitian di Lanrang Sulawesi Selatan juga menunjukkan daya tahan Tukad
Patanu terhadap tungro dengan intensitas serangan 18,20% sedangkan
varietas peka Ciliwung mencapai 75,7%.
4. Memusnahkan (eradikasi) tanaman terserang
Memusnahkan
tanaman terserang merupakan tindakan yang harus dilakukan untuk
menghilangkan sumber inokulum sehingga tidak tersedia sumber penularan.
Eradikasi harus dilakukan sesegera mungkin setelah ada
gejala serangan dengan cara mencabut seluruh tanaman sakit kemudian
dibenamkan dalam tanah atau dibakar. Pada umumnya petani tidak bersedia
melakukan eradikasi karena mengira penyakit bisa disembuhkan dan kurang
memahami proses penularan penyakit. Untuk efektifitas upaya pengendlian,
eradikasi mesti dilakukan diseluruh areal dengan tanaman terinfeksi,
eradikasi yang tidak menyeluruh berarti menyisakan sumber inokulum.
5. Pemupukan N yang tepat
Pemupukan
N berlebihan menyebab-kan tanaman menjadi lemah, mudah terserang wereng
hijau sehingga memudahkan terjadi inveksi tungro, karena itu penggunaan
pupuk N harus berdasarkan pengamatan dengan Bagan Warna Daun (BWD)
untuk mengetahui waktu pemupukan yang paling tepat. Dengan BWD,
pemberian pupuk N secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan tanaman
sehingga tanaman tidak akan menyerap N secara berlebihan.
6. Penggunaan pestisida
Penggunaan
pestisida dalam mengendalikan tungro bertujuan untuk eradikasi wereng
hijau pada pertanaman yang telah tertular tungro agar tidak menyebar ke
pertanaman lain dan mencegah terjadinya infeksi virus pada tanaman
sehat. Penggunaan insektisida sistemik butiran (carbofuran) lebih
efektif mencegah penularan tungro. Mengingat infeksi virus dapat terjadi
sejak di pesemaian, sebaiknya pencegahan dilakukan dengan antara lain
tidak membuat pesemaian di sekitar lampu untuk menghindari berkumpulnya
wereng hijau di pesemaian dan menggunakan insektisida confidor ternyata
cukup efektif. Insesektisida hanya efektif menekan populasi wereng hijau
pada pertanaman padi yang menerapkan pola tanam serempak. Karena itu
pengendalian penyakit tungro yang sangat berbahaya akan berhasil apabila
dilakukan secara bersama-sama dalam hamparan relatif luas, utamakan
pencegahan melalui pengelolaan tanaman yang tepat (PTT) untuk memperoleh
tanaman yang sehat sehinga mampu bertahan dari ancaman hama dan
penyakit. (Lalu Wira Jaswadi)
|
U
Secara
morfologis tanaman padi yang tertular virus tungro menjadi kerdil, daun
berwarna kuning sampai kuning jingga disertai bercak-bercak berwarna
coklat. Perubahan warna daun di mulai dari ujung, meluas ke bagian
pangkal. Jumlah anakan sedikit dan sebagian besar gabah hampa. Infeksi
virus tungro juga menurunkan jumlah malai per rumpun, malai pendek
sehingga jumlah gabah per malai rendah. Serangan yang terjadi pada
tanaman yang telah mengeluarkan malai umumnya tidak menimbulkan
kerusakan fatal.





