Senin, 20 Agustus 2012

Penyakit Tungro dan Pengendaliannya Pada Tanaman Padi PDF  Array Cetak Array  E-mail
Artikel
Oleh Lalu Wirajaswadi   
Rabu, 23 Juni 2010 18:07
Pendahuluan
Upaya peningkatan produktivitas padi mendukung P2BN dalam dua tahun terakhir ini banyak mengalami kendala terutama akibat faktor alami seperti perubahan iklim dan serangan hama penyakit. Salah satu jenis penyakit penting adalah virus tungro yang oleh petani di daerah endemis P. Lombok lebih dikenal dengan “Penyakit Kuning”, di Lombok Timur dikenal dengan “Rogak Abang” Serangan penyakit tungro seringkali berakibat fatal, karena tanaman terserang tidak dapat membentuk malai, dan sangat sulit dikendalikan.
Penyakit tungro mulai ditemukan di Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak tahun 1972, bersamaan dengan munculnya penyakit tungro di Jawa, Bali dan Sulawesi Selatan. Ledakan penyakit tungro terbesar terjadi di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur pada areal seluas lebih dari 10.000 ha tahun 1999. Kerusakan tanaman akibat tungro terus-menerus ditemukan khususnya di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu dan Bima, dengan intensitas serangan yang beragam. Kondisi ini perlu segera diatasi agar ledakan penyakit dapat dihindari yakni melalui pengelolaan tanaman yang benar dan pengendalian yang terintegrasi.
Penyebab Penyakit dan Penularannya
Tungro disebabkan oleh dua jenis virus yang berbeda yaitu virus bentuk batang Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV) dan virus bentuk bulat Rice Tungro Spherical Virus (RTSV). Kedua jenis virus tersebut tidak memiliki kekerabatan serologi dan dapat menginfeksi tanaman secara bersama-sama. Virus tungro hanya ditularkan oleh wereng hijau (sebagai vektor) tidak terjadi multiplikasi dalam tubuh wereng dan tidak terbawa pada keturunananya. Sejumlah species wereng hijau dapat menularkan virus tungro, namun Nephotettix virescens merupakan wereng hijau yang paling efisien sehingga perlu diwaspadai keberadaannya. Penularan virus tungro dapat terjadi apabila vektor memperoleh virus setelah mengisap tanaman yang terinfeksi virus kemudian berpindah dan mengisap tanaman sehat tanpa melalui periode laten dalam tubuh vektor.
Gejala Serangan
Secara morfologis tanaman padi yang tertular virus tungro menjadi kerdil, daun berwarna kuning sampai kuning jingga disertai bercak-bercak berwarna coklat. Perubahan warna daun di mulai dari ujung, meluas ke bagian pangkal. Jumlah anakan sedikit dan sebagian besar gabah hampa. Infeksi virus tungro juga menurunkan jumlah malai per rumpun, malai pendek sehingga jumlah gabah per malai rendah. Serangan yang terjadi pada tanaman yang telah mengeluarkan malai umumnya tidak menimbulkan kerusakan fatal.
Tinggi rendahnya intensitas serangan tungro ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya: ketersediaan sumber inokulum (tanaman terserang), adanya vektor (penular), adanya varietas peka dan kondisi lingkungan yang memungkinkan, namun keberadaan vektor yang mengandung virus adalah faktor terpenting. Intensitas penyakit tungro juga dipengaruhi oleh tingkat ketahanan varietas dan stadia tanaman. Tanaman stadia muda, sumber inokulum tersedia dan populasi vektor tinggi akan menyebabkan tingginya intensitas serangan tungro. Ledakan tungro biasanya terjadi dari sumber infeksi yang berkembang pada pertanaman yang tidak serempak.
Pengendalian penyakit
Pada prinsipnya penyakit tungro tidak dapat dikendalikan secara langsung artinya, tanaman yang telah terserang tidak dapat disembuhkan. Pengendalian bertujuan untuk mencegah dan meluasnya serangan serta menekan populasi wereng hijau yang menularkan penyakit. Mengingat banyaknya faktor yang berpengaruh pada terjadinya serangan dan intensitas serangan, serta untuk mencapai efektivitas dan efisiensi, upaya pengedalian harus dilakukan secara terpadu yang meliputi :
1. Waktu tanam tepat
Waktu tanam harus disesuaikan dengan pola fluktuasi populasi wereng hijau yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu. Waktu tanam diupayakan agar pada saat terjadinya puncak populasi, tanaman sudah memasuki fase generatif (berumur 55 hari atau lebih). Karena serangan yang terjadi setelah masuk fase tersebut tidak menimbulkan kerusakan yang berarti.
2. Tanam serempak
Upaya menanam tepat waktu tidak efektif apabila tidak dilakukan secara serempak. Penanaman tidak serempak menjamin ketersediaan inang dalam rentang waktu yang panjang bagi perkembangan virus tungro, sedangkan bertanam serempak akan memutus siklus hidup wereng hijau dan keberadaan sumber inokulum. Penularan tungro tidak akan terjadi apabila tidak tersedia sumber inokulum walaupun ditemukan wereng hijau, sebaliknya walaupun populasi wereng hijau rendah akan terjadi penularan apabila tersedia sumber inokulum.
3. Menanam varietas tahan
Menanam varietas tahan merupakan komponen penting dalam pengendalian penyakit tungro.Varietas tahan artinya mampu mempertahankan diri dari infeksi virus dan atau penularan virus oleh wereng hijau. Walaupun terserang, varietas tahan tidak menunjukkan kerusakan fatal, sehingga dapat menghasilkan secara normal. Sejumlah varietas tahan yang dianjurkan untuk daerah NTB antara lain: Tukad Patanu, Tukad Unda, Bondoyudo dan Kalimas. IR-66, IR-72 dan IR-74. Sejumlah varietas Inpari yang baru dilepas juga dinyatakan tahan tungro. Hasil penelitian di daerah endemis membuktikan Tukad Unda cukup tahan dengan intensitas serangan 0,0%-9,14% sedangkan varietas peka IR-64 berkisar 16,0%-79,1%. Penelitian di Lanrang Sulawesi Selatan juga menunjukkan daya tahan Tukad Patanu terhadap tungro dengan intensitas serangan 18,20% sedangkan varietas peka Ciliwung mencapai 75,7%.
4. Memusnahkan (eradikasi) tanaman terserang
Memusnahkan tanaman terserang merupakan tindakan yang harus dilakukan untuk menghilangkan sumber inokulum sehingga tidak tersedia sumber penularan. Eradikasi harus dilakukan sesegera mungkin setelah ada gejala serangan dengan cara mencabut seluruh tanaman sakit kemudian dibenamkan dalam tanah atau dibakar. Pada umumnya petani tidak bersedia melakukan eradikasi karena mengira penyakit bisa disembuhkan dan kurang memahami proses penularan penyakit. Untuk efektifitas upaya pengendlian, eradikasi mesti dilakukan diseluruh areal dengan tanaman terinfeksi, eradikasi yang tidak menyeluruh berarti menyisakan sumber inokulum.
5. Pemupukan N yang tepat
Pemupukan N berlebihan menyebab-kan tanaman menjadi lemah, mudah terserang wereng hijau sehingga memudahkan terjadi inveksi tungro, karena itu penggunaan pupuk N harus berdasarkan pengamatan dengan Bagan Warna Daun (BWD) untuk mengetahui waktu pemupukan yang paling tepat. Dengan BWD, pemberian pupuk N secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan tanaman sehingga tanaman tidak akan menyerap N secara berlebihan.
6. Penggunaan pestisida
Penggunaan pestisida dalam mengendalikan tungro bertujuan untuk eradikasi wereng hijau pada pertanaman yang telah tertular tungro agar tidak menyebar ke pertanaman lain dan mencegah terjadinya infeksi virus pada tanaman sehat. Penggunaan insektisida sistemik butiran (carbofuran) lebih efektif mencegah penularan tungro. Mengingat infeksi virus dapat terjadi sejak di pesemaian, sebaiknya pencegahan dilakukan dengan antara lain tidak membuat pesemaian di sekitar lampu untuk menghindari berkumpulnya wereng hijau di pesemaian dan menggunakan insektisida confidor ternyata cukup efektif. Insesektisida hanya efektif menekan populasi wereng hijau pada pertanaman padi yang menerapkan pola tanam serempak. Karena itu pengendalian penyakit tungro yang sangat berbahaya akan berhasil apabila dilakukan secara bersama-sama dalam hamparan relatif luas, utamakan pencegahan melalui pengelolaan tanaman yang tepat (PTT) untuk memperoleh tanaman yang sehat sehinga mampu bertahan dari ancaman hama dan penyakit. (Lalu Wira Jaswadi)
Penyakit utama padi di Bengkulu diantaranya adalah Tungro, Blast, Hawar Daun Bakteri (HDB)
1.    Tungro
Tanaman yang terserang tungro.

Stadia pertumbuhan tanaman yang paling rentan  adalah pembibitan hingga bunting. Gejala tanaman yang terinfeksi  tumbuh kerdil  dan sedikit anakan. Daun mengalami perubahan warna dari hijau menjadi sedikit kuning sampai kuning oranye dan kuning coklat, dimulai dari ujung daun terutama pada daun yang muda

Langkah-langkah pengendalian
•    Cara pengendalian sama dengan wereng hijau.
•    Eradikasi.
•    Patogen dari jamur Metarrhizium dan Bauveria dapat menekan penyakit tungro.
•    Rotasi tanaman dengan palawija.
•    Tanam varietas yang tahan seperti Tukad Balian, Tukad Unda, Kalimas.

 2.    Blast (Pyricularia grisea)

Blast menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan
Gejala adalah bercak berbentuk belah ketupat, lebar ditengah dan kedua ujung meruncing. Infeksi selain daun juga menyerang ruas batang dan leher malai.


Tanaman yang terserang blast.

Langkah-langkah pengendalian
  1. Perlakuan benih dengan fungisida pyroquilon (5-10 g/kg benih).
  2. Gunakan penggunaan varieras yang tahan secara bergantian (IR36, IR66, Luk Ulo).
  3. Gunakan pupuk Nitrogen sesuai anjuran.
  4. Waktu tanam tepat agar waktu pembungaan tidak banyak embun atau hujan.
  5. Fungisida 
  6.  Bahan aktif metil tiofanat, fosdifen, kasugamisin
  7. Merek dagang Topsin 500 F, Kasumiron 25 WP.


3.    Hawar Daun Bakteri (X. campestris pv.oryzae)


Tanaman yang terserang Hawar daun Bakteri.


Gejala; bercak berwarna kuning sampai putih berawal dari terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi daun. Bercak bisa mulai dari salah satu atau kedua tepi daun yang rusak dan berkembang hingga menutupi seluruh helaian daun. Apabila infeksi melalui akar atau pangkal batang  tanaman bisa menunjukkan gejala kresek.

Langkah-langkah pengendalian
•    Gunakan penggunaan varieras yang tahan (Conde dan Angke, Ciherang).
•    Sanitasi.
•    Jika menggunakan kompos jerami, pastikan jerami dari tanaman sakit sudah  terdekomposisi sempurna sebelum tanam pindah.
•    Gunakan benih yang bebas dari penyakit hawar daun bakteri.
•    Hindari pemupukan N yang berlebihan.
•    Jarak tanam jangan terlalu rapat.

4.    Bakteri Daun Bergaris (X. campestris pv.oryzicola)



Tanaman yang terserang Bakteri Daun Bergaris

Stadia yang paling rentan mulai dari fase anakan sampai fase pematangan. Infeksi penyakit ini biasanya terbatas pada helaian daun. Gejala Serangan: timbul berupa bercak sempit berwarna hijau gelap yang lama kelamaan membesar berwarna kuning dan tembus cahaya diantara pembuluh daun. Bercak membesar berubah menjadi coklat dan berkembang menyamping melampaui pembulah daun yang besar.
Langkah-langkah pengendalian:
•    Bersihkan dan bakar tunggul jerami yang terinfeksi.
•    Gunakan pupuk nitrogen sesuai anjuran.
•    Sesudah panen tanah diberakan
•    Jarak tanam jangan terlalu rapat

Rabu, 08 Agustus 2012



SUB POKOK BAHASAN : PESTISIDA ORGANIK SINTETIK
RANGKUMAN UMUM
Pengertian pestisida dapat dilihat dari P.P. No. 7 Tahun 1973, .P.P. RI No.6 tahun 1995, The United States Environmental Control Act, USEPA. Secara sederhana pestisida dapat diartikan sebagai pembunuh hama.
 
Pestisida dapat digolongkan menurut berbagai cara tergantung pada kepentingannya, antara lain berdasarkan jasad sasaran yang akan dikendalikan, berdasarkan cara kerja, berdasarkan struktur kimianya, asal dan sifat kimia, berdasarkan bentuknya dan berdasarkan pengaruh fisiologisnya.

1. Jenis Pestisida Menurut Jasad Sasaran :
    a. Akarisida
    b. Algasida
    c. Alvisida
    d. Bakterisida
    e. Fungsida
    f. Herbisida
    g. Insektisida
    h. Moluskisida
    i.  Nematisida
    j.  Ovisida
    k. Pedukulisida
    l.  Piscisida
    m. Predisida
    n. Rodentisida
    o. Termisida
    p. Silvisida
    q. Larvasida

2. Pestisida berdasarkan cara kerjanya :
   a. Racun perut
   b. Racun kontak
   c. Racun gas
   d. Pestisida sistemik

3. Pestisida Berdasarkan Struktur Kimia :
    Berdasarkan struktur kimianya, pestisida dibagi atas Orgahochlorine, Orgahoposphate,       
        Carbamat, Pyretroid dan pestisida yang mengandung senyawa organik, serychin, senyawa   
        sulphur organik dan dinytrophenol.

4. Pestisida berdasarkan asal dan sifat kimianya :
    Penggolongan pestisida menurut asal dan sifat kimia adalah Hasil alam (alami) dan  
         pestisida sintetik. Berdasarkan asal bahan yang digunakan untuk membuat pestisida, maka
         pestisida dapat dibedakan ke dalam empat golongan yaitu pestisida sintetik, nabati,
         biologi, dan pestisida alami.

5. Pestisida berdasarkan bentuknya :
    Berdasarkan bentuknya pestisida digolongkan dalam bentuk tepung, butiran, bubuk yang
         dapat dilarutkan, cairan yang dapat dilarutkan, cairan yang dapat diemulsikan, Volume
         Ultra Rendah, Aerosol, umpan beracun, dll.

6. Pestisida berdasarkan pengaruh fisiologisnya :
    Klasifikasi pestisida berdasarkan pengaruh fisiologisnya, yang disebut farmakologis atau
         klinis, adalah sebagai berikut :
    a. Senyawa Organofosfat
        Merupakan penghambat yang dari enzim cholinesterase pada syaraf dan menghalangi
             penyampaian rangsangan syaraf kelenjar dan otot-otot. Merupakan insektisida yang    
             paling toksik diantara jenis pestisida. Pestisida yang termasuk dalam golongan
             organofosfat antara lain Asefat, Kadusafos, Klorfenvinfos, Klorpirifos, Kumafos,
             Diazinon, Diklorvos (DDVP), Malation, Paration, Profenofos, Triazofos.
    b. Senyawa Organoklorin
        Pestisida golongan ini bersifat mengganggu susunan syaraf dan larut dalam lemak.  
             Secara kimia tergolong insektisida yang toksisitasnya relatif rendah akan tetapi mampu
             bertahan lama dalam lingkungan. Contohnya DDT.
    c. Senyawa Arsenat
        Keracunan akut ini menimbulkan gastroentritis dan diare. Pada keadaan kronis
             menyebabkan pendarahan pada ginjal dan hati.
    d. Senyawa Karbamat
        Pengaruh fisiologis yang primer dari racun golongan karbamat adalah menghambat
             aktifitas enzym cholinesterase darah dengan gejala-gejala seperti senyawa organofospat,
             tetapi pengaruhnya jauh lebih reversible dari pada efek senyawa organofosfat.
    e. Piretroid
        Piretrum mempunyai toksisitas rendah pada manusia tetapi menimbulkan alergi pada
             orang yang peka. Diekstrak dari bunga semacam krisan piretroid (bunga Chrysantheum
             cinerariaefolium) dengan keunggulan, diantaranya diaplikasikan dengan takaran relatif
             sedikit, spektrum pengendaliannya luas, tidak persisiten, dan memiliki efek
             melumpuhkan yang sangat baik. Insektisida tanaman lain adalah nikotin yang sangat
             toksik secara akut dan bekerja pada susunan saraf.

    
     KLASIFIKASI PESTISIDA ORGANIK SINTETIK

Pestisida Senyawa Organik Sintetik Berdasarkan Struktur Kimia :
A.  Menurut Pohan (2004), jika dilihat dari segi struktur kimianya, pestisida dibagi atas:
a. Orgahochlorine
    Pestisida jenis ini mengandung unsur-unsur Carbon, Hidrogen, dan Chlorine. Misal :   
    DDT
b. Orgahoposphate
    Pestisida yang mengandung unsur : P, C, H misal : tetra ethyl phyro posphate (TEPP )
c. Carbamate
    Pestisida yang mengandung gugus Carbamate. Misal : Baygon, Sevin dan Isolan.
d. Lain-Lain
    Diluar ketiga jenis diatas, pestisida ini mengandung senyawa organik, serychin,   
    senyawa sulphur organik dan dinytrophenol.

B.  Sedangkan menurut Dep.Kes RI Dirjen P2M dan PL 2000 dalam Diana (2009), berdasarkan struktur kimianya pestisida dapat digolongkan menjadi :
a. Golongan organochlorin
    Pestisida organochlorin misalnya DDT, Dieldrin, Endrin dan lain-lain. Umumnya  
    golongan ini mempunyai sifat merupakan racun yang universal, degradasinya
    berlangsung sangat lambat larut dalam lemak.
b. Golongan organophosfat
    Pestisida organophosfat misalnya diazonin dan basudin. Golongan ini mempunyai sifat-
    sifat yang merupakan racun tidak selektif, degradasinya berlangsung lebih cepat atau
    kurang persisten di lingkungan, menimbulkan resisten pada berbagai serangga dan
    memusnahkan populasi predator dan serangga parasit, lebih toksik terhadap manusia
    dari pada organokhlor.
c. Golongan carbamat termasuk baygon, bayrusil, dan lain-lain.
    Golongan ini mempunyai sifat sebagai berikut : mirip dengan sifat pestisida
    organophosfat, tidak terakumulasi dalam sistem kehidupan, degradasi tetap cepat
    diturunkan dan dieliminasi namun pestisida ini aman untuk hewan, tetapi toksik yang
    kuat untuk tawon.
d. Senyawa dinitrofenol misalnya morocidho 40EC.
    Salah satu pernafasan dalam sel hidup melalui proses pengubahan ADP (Adenesone-5-
    diphosphate) dengan bantuan energi sesuai dengankebutuhan dan diperoleh dari
    rangkaian pengaliran elektronik potensial tinggi ke yang lebih rendah sampai dengan
    reaksi proton dengan oksigen dalam sel. Berperan memacu proses pernafasan sehingga
    energi berlebihan dari yang diperlukan akibatnya menimbulkan proses kerusakan
    jaringan.
e. Pyretroid
    Salah satu insektisida tertua di dunia, merupakan campuran dari beberapa ester yang
    disebut pyretrin yang diekstraksi dari bunga dari genus Chrysanthemum. Jenis pyretroid
    yang relatif stabil terhadap sinar matahari adalah : deltametrin, permetrin, fenvalerate.
    Sedangkan jenis pyretroid yang sintetis yang stabil terhadap sinar matahari dan sangat
    beracun bagi serangga adalah : difetrin, sipermetrin, fluvalinate, siflutrin, fenpropatrin,   
    tralometrin, sihalometrin, flusitrinate.
f. Fumigant
    Fumigant adalah senyawa atau campuran yang menghasilkan gas atau uap atau asap
    untuk membunuh serangga, cacing, bakteri, dan tikus. Biasanya fumigant merupakan
    cairan atau zat padat yang murah menguap atau menghasilkan gas yang mengandung
    halogen yang radikal (Cl, Br, F), misalnya chlorofikrin, ethylendibromide, naftalene,
    metylbromide, formaldehid, fostin.
g. Petroleum
    Minyak bumi yang dipakai sebagai insektisida dan miksida. Minyak tanah yang juga
    digunakan sebagai herbisida.
h. Antibiotik
    Misalnya senyawa kimia seperti penicillin yang dihasilkan dari mikroorganisme ini
    mempunyai efek sebagai bakterisida dan fungisida.


C. Sedangkan menurut Prijanto (2009), berdasarkan jenis bentuk kimianya dapat digolongkan      
menjadi :
     a. Organofosfat
        Pestisida yang termasuk ke dalam golongan organofosfat antara lain : Azinophosmethyl,
   Chloryfos, Demeton Methyl, Dichlorovos, Dimethoat, Disulfoton, Ethion, Palathion,
   Malathion, Parathion, Diazinon, Chlorpyrifos. Organofosfat disintesis pertama di Jerman  
   pada awal perang dunia ke II. Pada awal sintesisnya diproduksi senyawa tetraethyl  
   pyrophosphate (TEPP), parathion dan  schordan yang sangat efektif sebagai insektisida,
   tetapi juga cukup toksik terhadap mamalia. Penelitian berkembang terus dan ditemukan
   komponen yang protein terhadap insekta tetapi kurang toksik terhadap manusia seperti
   malathion, tetapi masih sangat toksik terhadap insekta.

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNb6yTsdGtJ_4GTbhmzaXNdp0lr1fxGdlqmq_YMKjjat_Az9Oeirrf8c8-ag3xd1ziCk2HnXnLdinmaPdbMHoLR0rCk80ci2kfYTAHaO7H01jdtit02w_FWG6cn5JjeakHNzJj4F1QjObB/s320/Tabel+Struktur+komponen+beberapa+senyawa+organofosfat.PNG

     Organofosfat adalah insektisida yang paling toksik di antara jenis pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada manusia. Bila tertelan, meskipun hanya dalam jumlah sedikit, dapat menyebabkan kematian pada manusia.
Organofosfat menghambat aksi pseudokholinesterase dalam plasma dan kholinesterase dalam sel darah merah dan pada sinapsisnya. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis acetylcholine menjadi asetat dan kholin. Pada saat enzim dihambat, mengakibatkan jumlah acetylcholine meningkat dan berikatan dengan reseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.
Gejala keracunan organofosfat sangat bervariasi. Setiap gejala yang timbul sangat bergantung pada adanya stimulasi asetilkholin persisten atau depresi yang diikuti oleh stimulasi saraf pusat maupun perifer. Gejala awal seperti salivasi, lakrimasi, urinasi dan diare (SLUD) terjadi pada keracunan organofosfat secara akut karena terjadinya stimulasi reseptor muskarinik sehingga kandungan asetil kholin dalam darah meningkat pada mata dan otot polos.

b. Karbamat
    Insektisida karbamat berkembang setelah organofosfat. Insektisida ini biasanya daya
    toksisitasnya rendah terhadap mamalia dibandingkan dengan organofosfat, tetapi sangat
    efektif untuk membunuh insekta. Pestisida golongan karbamat ini menyebabkan
    karbamilasi dari enzim asetil kholinesterase jaringan dan menimbulkan akumulasi asetil
 
    kholin pada sambungan kholinergik neuroefektor dan pada sambungan acetal muscle  
    myoneural dan dalam autonomic ganglion, racun ini juga mengganggu sistem saraf pusat.

     Struktur Karbamat dapat dilihat di bawah ini :
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCo38a5e708VDXB6w0OktQ5ozkL9fvrrJgxsZ0e8dEUkc1mMEL3W6hjlqQlhjFLHCJuqzTkNlF2DNaExePhY2113HKIosX1-EJG-5fvT8WovK27UbNSfZioq2lZL4f5Haf3kbgEGFnQff3/s320/Struktur+beberapa+senyawa+karbamat.PNG

    Struktur karbamat seperti physostigmin, ditemukan secara alamiah dalam kacang Calabar  
    (calabar bean). Bentuk carbaryl telah secara luas dipakai sebagai insektisida dengan
    komponen aktifnya adalah Sevine R.Mekanisme toksisitas dari karbamat adalah sama
    dengan organofosfat, dimana enzim achE dihambat dan mengalami karbamilasi.

c. Organoklorin
    Organoklorin atau disebut “Chlorinated hydrocarbon” terdiri dari beberapa kelompok yang
    diklasifikasi menurut bentuk kimianya. Yang paling populer dan pertama kali disinthesis
    adalah “Dichloro-diphenyl-trichloroethan” atau disebut DDT.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg40BZFAStqPUkXR2Kq6U3ih4WA4RD7ejx_59yDBgUKlu_PhHh6dqfVz3-TjxbH1RpePgzPb2nnwrVBMDPcau0WUho9G8l9otDcRotNggs00OFFq5yJZxbEFbNvGylTSXVggYmQudXLi55Q/s320/Klasifikasi+Insektisida+Organoklorin.PNG

    Mekanisme toksisitas dari DDT masih dalam perdebatan, walaupun komponen kimia ini
      sudah disintesis sejak tahun 1874. Tetapi pada dasarnya pengaruh toksiknya terfokus pada  
      neurotoksin dan pada otak. Saraf sensorik dan serabut saraf motorik serta kortek  motorik
      adalah merupakan target toksisitas tersebut. Dilain pihak bila terjadi efek keracunan  
      perubahan patologiknya tidaklah nyata. Bila seseorang menelan DDT sekitar 10mg/Kg
      akan dapat menyebabkan keracunan, hal tersebut terjadi dalam waktu beberapa jam.
      Perkiraan LD50 untuk manusia adalah 300-500 mg/Kg. DDT dihentikan penggunaannya
      sejak tahun 1972, tetapi penggunaannya masih berlangsung sampai beberapa tahun    
       kemudian, bahkan sampai sekarang residu DDT masih dapat terdeteksi. Gejala yang
       terlihat pada intoksikasi DDT adalah sebagai berikut: Nausea, vomitus, paresthesis pada
       lidah, bibir dan muka, iritabilitas, tremor, convulsi, koma, kegagalan pernafasan,
       kematian.


Pestisida berdasarkan asal dan sifat kimianya :

A. Penggolongan pestisida menurut asal dan sifat kimia menurut Butarbutar (2009) adalah:
     a. Hasil alam: Nikotinoida, Piretroida, Rotenoida dll.
     b. Sintetik
        1) Anorganik: garam-garam beracun seperti arsenat, flourida, tembaga sulfat dan garam     
            merkuri.
        2) Organik :
           a) Organo khlorin: DDT, BHC, Chlordane, Endrin dll.
          b) Heterosiklik: Kepone, mirex dll.
          c) Organofosfat: malathion, biothion dll.
          d) Karbamat: Furadan, Sevin dll.
          e) Dinitrofenol: Dinex dll.
          f) Thiosianat: lethane dll.
          g) Sulfonat, sulfida, sulfon.
          h) Lain-lain: methylbromida dll.

B. Sedangakan menurut Soemirat (2005) Klasifikasi pestisida menurut asal dan struktur atau
    golongan zat kimianya antara lain :
a. Pestisida alamiah:
    1) Pyrethum: Pyrethrin, Cinerin
    2) Derris: Rotenon
b. Pestisida sintetik:
    1) Senyawa halogen organik: DDT, Lindan
    2) Senyawa fosfatester organik: Dichlorvos, Malathion
   3) Senyawa karbamat : Prpoxur, Dimetilan
   4) Derivat kumarin : Cumachlor
   5) Senyawa Dinitrofenol : Dinobuton

C. Berdasarkan asal bahan yang digunakan untuk membuat pestisida, maka pestisida dapat
    dibedakan ke dalam empat golongan yaitu:
    a. Pestisida Sintetik, yaitu pestisida yang diperoleh dari hasil sintesa kimia, contoh:
        organoklorin, organofospat, dan karbamat.
    b. Pestisida Nabati, yaitu pestisida yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, contoh: neem oil
        yang berasal dari pohon mimba.
    c. Pestisida Biologi, yaitu pestisida yang berasal dari jasad renik atau mikrobia, contoh:
        jamur, bakteri atau virus.
    d. Pestisida Alami, yaitu pestisida yang berasal dari bahan alami, contoh: bubur bordeaux.



Daftar Pustaka

Butarbutar, J. 2009. Pestisida dan Pengendaliannya. Koperasi Serba Usaha "SUBUR"  Diana  
Kementrian Pertanian.2011. Pedoman Pembinaan Penggunaan Pestisida. Jakarta: Direktorat     
            Jenderal Prasaranan dan Sarana Kementrian Pertania.
Munawir, Khozanah. 2005. Pemantauan Kadar Pestisida Organoklorin Di Beberapa Muara   
            Sungai Di Perairan Teluk Jakarta. Jurnal Oseanologidan Limnologi di Indonesia 2005
            No. 37 : 15 – 25 ISSN 0125 – 9830
Pohan, Nurhasmawati. 2004. Pestisida dan Pencemarannya. Universitas Sumatra Utara.
            http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/ 1367/1/tkimia-nurhasmawaty7.pdf.
            Diakses 20 Mei 2011
Prijanto, T.B. 2009. Analisis Faktor Risiko Keracunan Pestisida Organofosfat pada Keluarga
           Petani Hortikultura Di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. (Tesis). Program
           Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang.
Quijano;Sarojeni V. Rengam.2001. Pestisida Berbahaya Bagi Kesehatan. Solo: Yayasan Duta
            Awam Pesticide Action Network Asia and the Pacific
Runia, Yodenca. 2008. Tesis: Faktor-fakor yang Berhubungan dengan Keracunan Pestisida
           Organofosfat, Karbamat dan Kejadian Anemia pada Petani Holtikultura Di Desa
           Tejosari Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Universitas Diponegoro.
           Semarang. Dipublikasikan (112 Hal). Diakses 18 Mei 2011
Rustia, Hana. 2009. Skipsi: Pengaruh pajanan pestisida terhadap Petani di Tangerang.
           Universitas Indonesia. Depok. Dipublikasikan (98 hal). Diakses 20 Mei 2011
Sartono. 2001. Racun dan Keracunan. Widya Medika. Jakarta.
Soemirat, J. 2005. Toksikologi Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Tarumingkeng. 2008. Pestisida dan Penggunaannya. Bogor: Institut Pertanian Bogor

Wulan. 2009. Dampak Negatif Penggunaan Pestisida di Lingkungan   
            http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1106/1/fp-diana.pdf. Diakses tanggal    
            19 mei 2011
Yuantari, Maria. 2009. Tesis: Studi Ekonomi Lingkungan Penggunaan Pestisida dan
           Dampaknya pada Kesehatan Petani Di Area Pertanian Hortikultura Desa Sumber Rejo
           Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Universitas Diponegoro.
           Semarang. Dipublikasikan (142 Hal). Diakses 28 Mei 2011

SELESAI
TUGAS :

v Cari 5 merek dagang pestisida yang umum dipergunakan di rumah tangga, catat kandungan bahan aktif didalamnya dan termasuk ke dalam klasifikasi pestisida yang mana (racun tikus, serangga, nyamuk dll) !
v Cari masing-masing 4 merek dagang pestisida yang biasa digunakan di bidang pertanian, pada lahan sawah dan pada perkebunan kepala sawit, carilah kandungan bahan aktif dan termasuk ke dalam klasifikasi pestisida yang mana, jelaskan!

Buatlah tugas dan kirim ke : dianastriani25@yahoo.co.id , paling lambat hari Rabu 11 April 2012