Minggu, 05 Agustus 2012

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN
UJI RASA













Disusun Oleh :



                               Hendrik ( 10011006)
Gilang Kurniadi ( 1001100
Yusron( 1001100
Ibnu Fatullah ( 1001100





LABORATORIUM DASAR AGRONOMI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
YOGYAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Untuk mengetahui bagaimana cara menguji rasa suatu makanan secara kuntitatif sehingga data yang didapatkan bisa valid, karena kalau hanya secara kualitatif maka data yang sisapatkan tidak valid juga.
Percobaan ini juga berguna sebagai landasan untuk melangkah kemata kuliah yang mempunyai kaitan dengan mata kuliah Pemuliaan Tanaman.

B. Tujuan Praktikum
            Tujuan praktikum ini adalah :
·         Mengadakan pengujian serta penilaian terhadap rasa nasi dari suatu jenis padi.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Padi (beras) adalah tanaman pangan yang sangat penting dalam kehidupan. Salah satu usaha dari peningkatan produksi beras adalah introduksi kultivar-kultivar dari lembaga penelitian padi internasional (IRRI). Walaupun varietas introduksi tersebut tahan terrhadap hama dan penyakit dan relatif berumur lebih genjah serta memberi hasil panen yang lebih tinggi, akan tetapi rasa nasinya kurang disenangi. Pada dasarnya penyebabnya adalah kepulenan yang rendah dibandingkan kultivar lokal (Suwandi, et al.,1985)
Karakteristik beras meliputi sifat fisik, kimia, fisikokimia, dan organoleptik butiran beras. Sifat-sifat tersebut mempunyai hubungan langsung dengan preferensi konsumen dan harga beras digunakan sebagai criteria dalam komponen mutu beras. Mutu beras dapat dikategorikan menjadi : mutu pasar, mutu tanak, rasa dan prosesing atau mutu giling, mutu gizi dan standar spesifik untuk penampakan dan kemurnian biji (Weeb,1990).
Tingginya produktivitas padi tidak menjamin nilai rasanya. Perbedaan rasa nasi antar varietas terletak pada adanya perbedaan kadar amilose yang terdapat pada pati dari butir-butir berasnya. Pati beras tersusun atas rangkaian unit-unit gula (glukosa) yang terdiri dari fraksi rantai cabang amilopektin, dan rantai lurus amilose (Djoko, 1988).
Di pulau Jawa mutu beras yang baik memegang peranan penting dalam perdagangan beras. Faktor-faktor yang menentukan rasa beras antara lain : bentuk, ukuran, warna nasi, serta rendemen. Beras yang mempunyai harga tinggi dipasaran umumnya bening. Rendemen merupakan suatu unsur mutu penting. Rendemen dikatakan baik bila dari gabah dihasilkan 70 % beras giling yang terdiri dari 50 % beras kepala dan 20 % beras pecah (Harahap et al., 1984).
Mutu yang baik dan rasa nasi yang enak memegang peranan penting dalam perdagangan dan perkembangan suatu varietas. Banyak varuietas unggul yang mempunyai potensial hasil yang tinggi, tahan terhadap penyakit namun tidak populer dikalangan masyarakat petani karena mutu bersanya kurang baik dan rasanya tidak sesuai dengan selera konsumen. Masing-masing varietas atau galur padi mempunyai sifat dan mutu beras serta rasa nasi yang berbeda (Cush, 1982).
Faktor-faktor yang menentukan mutu beras antara lain adalah bentuk, ukuran, dan warna beras serta rendemen. Beras yang diinginkan dan mempunyai harga tinggi di pasar, berukuran panjang (6,61-7,50 mm) atau sedang (5,51-6,60 mm), serta mempunyai bentuk lonjong (slender) atau sedang (medium), dan berwarna bening (transclucent) (1,6). Rendemen merupakan salah satu factor mutu yang penting. Rendemen dikatakan baik apabila gabah diperoleh minimum 70% beras giling, tediri dari ± 50% beras kepal dan 20% beras pecah (3,8). Faktor lain yang harus diperhatikan adalah rasa nasi. Nasi lunak (pulen) dan wangi sangat disukai sebagian besar masyarakat Indobnesia (Widjono dan Syam,1982).
Ada empat factor utama yang mempengaruhi mutu beras yaitu sifat genetic, lingkungan dan kegiatan prapanen, perlakuan prapanen, dan perlakuan pascapanen. Sifat genetic beras meliputi ukuran dan bentuk beras, rendemen giling, penampakan biji, sifat mutu tanak, dan cita rasa nasi. Aroma beras ditentukan juga oleh sifat genetic. Faktor lingkungan antara lain adalah kondisi ekosistem suatu wilayah. Rendemen beras giling dari varietas padi yang sama (IR64) yang ditanam di lahan beririgasi teknis, berbeda rendemen berasnya dibanding  yang ditanam di lahan tadah hujan, dataran tinggi, lahan pasang surut dan rawa (Suismono et al.,1999).
Telah diketahui bahwa kadar amilosa beras mempunyai korelasi positif terhadap rasa nasi. Makin tinggi kadar amilosa beras, makin keras pula nasinya. Kadar amilosa dapat digolongkan menjadi ketan (1-2%), sangat rendah (2-10%), rendah (10-20%), sedang (20-25%), dan tinggi (>25%). Beras yang mempunyai kadar amilosa 20-24% biasanya mempunyai rasa nasi enak (Widjono dan Syam,1982).

Rasa merupakan faktor yang bersifat relatif, dan merupakan salah satu faktor penentu kualitas. Bagi konsumen, rasa umumnya merupakan faktor penentu pilihan terhadap suatu jenis padi atau beras, karena rasa nasi adalah ungkapan selera pribadi yang bergantung pada individu, golongan, maupun daerah. Pada kegiatan pemulian padi, faktor rasa ini perlu mendapat tanggapan yang baik dari konsumen atau petani.
Faktor penentu kualitas suatu tanaman berbeda antara satu jenis tanaman dengan yang lainnya. Faktor penentu kualitas tanaman untuk kepentingan akan berbeda dengan faktor penentu kulitas tanaman bagi kepentingan pangan. Untuk tanaman padi, faktor – faktor yang menentukan kualitas tanaman adalah :

-          Rendemen
-          Bentuk butir
-          Kekerasan butir
-          Rasa
Rendemen menunjukan persentase berat dari menjadi gabah ataupun dari gabah menjadi berasnya.
Bentuknya butir ada 3 macam yaitu :
-          Pendek atau gemuk    : bila perbandingan panjang dan lebar butir tidak lebih dari 2
-          Sedang                         : perbandingan antara panjang dan lebar butir antara 2,1 – 3
-          Panjang atau langsing  : perbandingan panjang dan lebar butir dari 3
Bentuk butir berpengaruh terhadap kekerasan atau mudah tidak pecah. Umumnya bentuk yang pendek lebih kurang pecah dibandingkan yang berbentuk panjang. Rasa nasi dapat ditentukan oleh nilai kepulen dan aroma, sedangkan kepulen sediri ditentukan oleh sifat kekerasan dan kelengketan nasi.
Dari sekian faktor ynag berpengaruh rasa nasi, seperti suhu gelatinasi, gel konsistensi, pengembangan setelah ditanak dan aroma, kadar amilosa merupakan faktor yang paling berpengaruh ( Somantri,1985 ).
 Nasi yang bergolongkan pulen dan dinilai enak berasal dari beras yang memiliki kadar amilosa rendah sampai sedang ( Damardjati, 1983 dan Tritowirjono, 1989 ).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A.    Waktu dan tempat
Praktikum Penuliaan Tanaman acara smaak proff  ( pengujian rasa )  dilaksanakan pada hari selasa, 3 Juli 2012, pukul 13.00 WIB, di Laboratorium Agronomi, Fakultas Agroindustri, Program Studi Agroteknologi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

B.     Alat dan Bahan
a.       Alat yang digunakan :
1.      toples
2.      Alat tulis
b.      Bahan yang digunakan :
Ø  C4/ir 64
Ø  C4/ir 64 prima
Ø  C4/ir 64 semi organik
Ø  C4/ir 64 organik
Ø  Rajalele organik
Ø  Menthik susu organic
Ø  Menthik susu
C.    Cara kerja
1.      Mencicip nasi berdasarkan kelompok masing
2.      Setiap kelompok mencicipi tiga jenis nasi yang berbeda
3.      Dengan penilaian :
§  Nilai 1 untuk enak sekali
§  Nilai 2 untuk enak
§  Nilai 3 untuk sedang
§  Nilai 4 kurang enak
§  Nilai 5 tidak enak
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
Blok
Perlakuan
Total

1
2
3
4
5
6
7
Bj

1
1,3
2
 -
3
- 
- 
- 
6,3
B1
2
 -
2
3,5
- 
1,75
- 
- 
7,25
B2
3
- 
- 
3,5
3,3
- 
2
- 
8,8
B3
4
- 
- 
 -
4,5
2,5
- 
2,25
9,25
B4
5
2,75
- 
 -
 -
2,75
2,5
- 
8
B5
6
- 
3,5
 -
- 
- 
2,5
3,3
9,3
B6
7
4
-
5
 -
 -
 -
3,7
12,7
B7
Total
8,05
7,5
12
10,8
7
7
9,25
61,6



T1
T2
T3
T4
T5
T6
T7


Ø  C4/ir 64
Ø  C4/ir 64 prima
Ø  C4/ir 64 semi organik
Ø  C4/ir 64 organik
Ø  Rajalele organik
Ø  Menthik susu organic
Ø  Menthik susu
 
Analisis Data
NO
Total Perlakuan
Bt
Bt/K
Qt
ΔTi
1
8,05
27
9,00
-0,95
-0,45238
2
7,5
22,85
7,62
-0,12
-0,04828
3
12
28,75
9,58
2,42
0,823864
4
10,8
24,35
8,12
2,68
0,87027
5
7
24,5
8,17
-1,17
-0,4375
6
7
26,1
8,70
-1,70
-0,54839
7
9,25
31,25
10,42
-1,17
-0,27559
Total
61,6
184,8
61,6
0,00
-0,068



Tabel perhitungan Ti Adjusted
N0
Ti
Ti/r
∆Ti
(Ti/r)-∆ti)
Varietas beras
1
8,05
2,68
-0,45238
3,14
Cu/ir 64
2
7,5
2,50
-0,04828
2,55
Cu/ir 64 Prima
3
12
4,00
0,823864
3,18
Cu/ir 64 Semi organik
4
10,8
3,60
0,87027
2,73
Cu/ir 64 Organik
5
7
2,33
-0,4375
2,77
Raja lele organik
6
7
2,33
-0,54839
2,88
Menthik susu organik
7
9,25
3,08
-0,27559
3,36
Mentik susu

ANOVA

Sumber Variasi
Db
SS
kuadrat tengah
F hit
F tabel
Blok
6
3,31
0,55
0,17
2,36
Perlakuan
6
3,565
0,59
0,19
2,36
Eror
36
113,8443
3,16
- 
-
Total
48
120,72
-
- 
-



Ti ( Adjusted ) = ( Ti / r ) - D Ti
3,14
2,55
3,18
2,73
2,77
2,88
3,36

Ti ( 1 )            
Ti ( 2 )
Ti ( 3 )
Ti ( 4 )            
Ti ( 5 )              
Ti ( 6 )            
Ti ( 7 ) 


Harga Ti ( Adjusted ) yang paling rendah adalah pada Ti(2). Dan nilai yang paling tinggi adalah pada Ti(7). Hal ini menunjukkan bahwa pada nasi nomor 2 adalah yang paling enak dan sebaliknya, pada nasi nomor 7 adalah nasi yang paling tidak enak ( paling tidak disukai ).
BAB V
PEMBAHASAN
Beras merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat indonesia yang harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Namun selera masyarakat di setiap wilayah indonesia berbeda-beda. Ada yang suka nasi pulen, ada juga yang suka nasi pera. Pada praktikum “Smaak Proff” ini tujuannya adalah untuk mengadakan pengujian serta penilaian terhadap rasa nasi dari suatu jenis padi.
Dalam praktikum kali ini akan dicoba untuk membedakan dan membandingkan antara rasa nasi dari beberapa varietas yang berbeda. Varietas yang digunakan dalam praktikum ini terdiri dari beras (Ada 7 Varietas). Macam varietas ini terdiri atas varietas C4/ir 64, C4/ir 64 prima,C4/ir 64 semi organic, C4/ir 64 organik, Rajalele organic, Menthik susu organic Menthik susu.  Rasa merupakan faktor yang relatif serta merupakan salah satu faktor penentu kualitas hasil pertanian khususnya terhadap jenis padi. Metode yang digunakan dalam pengujian rasa nasi ini ada dua macam yaitu metode tidak langsung dan metode langsung. Uji rasa tidak langsung penilaian yang dilakukan berdasarkan atas derajad kesukaan antara lain : 1 ( rasa enak sekali ), 2 ( rasa enak ), 3 ( rasa biasa ), 4 ( rasa kurang enak ), 5 (rasa tidak enak ). Dari pengamatan secara langsung, yaitu dengan cara langsung mencicipi nasi diperoleh hasil jenis nasi varietas C4/ir 64 prima adalah yang paling enak, diikuti Rajalele organic  , C4/ir 64, C4/ir 64 prima,C4/ir 64 semi organic, C4/ir 64 organik, menthik susu   yang tidak enak. Secara tidak langsung dan perhitungan dapat diketahui bahwa varietas merupakan varietas padi yang paling enak sedangkan varietas  merupakan varietas C4/ir 64 padi yang tidak enak. Hal ini dilihat dari Tadj -nya, varietas padi C4/ir 64 adalah yang paling kecil dari pada varietas lainnya dan varietas menthik susu  nilainya paling tinggi.  Dari analisis CRD tidak terdapat beda nyata diantara blok / ulangannya. Hasil yang diperoleh ini menunjukkan bahwa setiap varietas memiliki mutu rasa yang berbeda antara varietas satu dan yang lainnya.
Hasil ini sangat berlainan dengan keadaan sebenarnya. Jika dilakukan pengujian secara objektif, varietas menthik susu  adalah varietas padi paling enak jika diukur dari nilai atau kadar amylose yang dikandung. Penelitian yang dilakukan oleh IRRI, Juliano dapat membuktikan bahwa perbedaan rasa nasi antar varietas terletak pada adanya perbedaan-perbedaan kadar amylose yang terdapat pada pati butir-butir berasnya. Serta berlawanan dengan kadar amilosa beras mempunyai korelasi positif terhadap rasa nasi. Makin tinggi kadar amilosa beras, makin keras pula nasinya. Kadar amilosa dapat digolongkan menjadi ketan (1-2%), sangat rendah (2-10%), rendah (10-20%), sedang (20-25%), dan tinggi (>25%). Beras yang mempunyai kadar amilosa 20-24% biasanya mempunyai rasa nasi enak (Widjono dan Syam,1982).
Mutu rasa lebih ditentukan oleh faktor subjektif yang dipengaruhi oleh lokasi, lingkungan, pendidikan, tingkat golongan, suku bangsa, dan jenis pekerjaan dari konsumen. Walaupun belum ada kriteria tertentu yang mapan untuk menetapkan kriteria mutu rasa nasi, akan tetapi mutu rasa memiliki hubungan langsung dengan selera dan preferensi konsumen. Cita rasa merupakan ungkapan selera pribadi yang secara tidak langsung mutu rasa termasuk dalam klasifikasi jenis beras. Sifat utama dari beras yang menentukan mutu rasa adalah penampilan, tekstur dan aroma nasi.
Pada dasarnya faktor-faktor yang menentukan kualitas padi adalah : 1) rendemen 2) bentuk bulir 3) kekerasan dan 4) rasa. Rendemen menunjukkan persentasi berat dari malai menjadi gabah atau dari gabah menjadi beras. Bentuk bulir berpengaruh terhadap kekerasan atau mudah tidaknya pecah. Umumnya bentuk pendek lebih tahan pecah dibanding bentuk panjang
Kandungan amilosa pada nasi mempunyai korelasi negatif terhadap nilai rasa dari kelekatan, kelunakan, warna dan kilat nasi. Kadar amilosa mempunyai korelasi positif dengan jumlah penyerapan air dan pengembangan volume nasi selama pemasakan. Sedangkan kelekatan nasi dipengaruhi terutama oleh kadar amilosa dan kadar protein yang berkorelasi negatif.
Tekstur dan rasa nasi ditentukan oleh kandungan pati yang meliputi kurang lebih 90 % dari berat kering beras putih. Pati itu sendiri terdiri atas amilosa dan amilopektin. Kadar amilosa sangat berhubungan dengan tekstur nasi, dapat digolongkan mempunyai kadar amilosa tinggi (25-30 %), sedang (20-25 %), dan rendah (10-20 %). Beras dengan kadar amilosa rendah akan mempunyai  rasa yang semakin enak dan tekstur nasi yang lengket. Sebaliknya beras dengan amilosa tinggi mempunyai rasa yang tidak enak dan tekstur nasinya pera dan cenderung menjadi keras setelah dingin. Beras dengan kadar amilosa sedang mempunyai tekstur nasi pulen dan tidak menjadi keras setelah dingin. Pati atau amilum biasanya terdapat dalam jagung, kentang, biji-bijian, ubi jalar, padi dan gandum. Pati merupakan senyawa polisakarida yaitu senyawa polimer yang tersusun dari gugusan monosakarida sehingga rangkaian dari glikosida dapat diputus melalui proses hidrolisa. Perbedaan struktur amilose dan amilopektin terletak pada rangkaian antar molekul glikosidanya, pada amilose rangkaian terjadi antara C1 dan C4 sedangkan pada amilopektin antara C1 dan C6. Struktur amilosa berupa rantai lurus, yang cenderung tidak melakukan ikatan dengan air sehingga dari sini dapat disimpulkan bahwa nasi dengan kadar amilosa yang tinggi nasinya akan semakin keras.
Preferensi terhadap mutu cita rasa terutama ditentukan oleh tingkat aroma dan rasa nasi. Meskipun sifat genetik beras merupakan faktor utama dalam evaluasi mutu citarasa, tetapi faktor pemasakan seperti perbandingan antara air dan beras serta lamanya pemasakan juga mempengaruhi nilai mutu citarasa. Kualitas rasa nasi sangat ditentukan oleh komposisi pati dalam biji padi. Kandungan patinya berupa amilopektin dan amilosa. Makin tinggi kadar amilosa maka makin rendah amilopektinnya, sehingga nasi cenderung kering, pera dan rasanya tidak enak. Sedangkan beras yang memiliki kandungan amilosa rendah cenderung lebih lengket, empuk, pulen dan enak rasanya.
Secara umum komponen dari mutu beras dapat dikelompokkan atas : rendemen, penampakan, bentuk, ukuran, sifat-sifat tanak, dan rasa nasi. Semua ini penting digunakan secara bersama-sama dalam penetapan kriteria beras sesuai dengan tujuan penggunaannya. Meskipun demikian, pada akhirnya penggolongan kriteria mutu beras harus mempunyai hubungan langsung dengan penerimaan konsumen akhir. Karena beras dikonsumsi sebagian besar dalam bentuk nasi, maka penetapan kriteria mutu beras didasarkan atas pola konsumsi tersebut.










VI. KESIMPULAN

Nasi yang paling disukai adalah nasi yang berasal dari padi varietas Cu/ir 64 Prima Dengan Ti(Adjusted) = 2,55. Nasi yang paling tidak disukai adalah nasi Menthik susu. Dengan Ti(Adjusted) = 3,36. Rasa merupakan suatu yang relatif karna selera setiap individu memiliki penilaian yang berbeda-beda.
Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dengan faktor penyebab uji rasa terjadi human error “individu mahasiswa” dari segi uji rasa tiap individu, anggapan tekstur dan warna beras tiap individu berbeda tergantung daerah asal individu dan keadaan perut tiap individu yang masih tergolong kosong/lapar sehingga nasi yang menjadi bahan uji rasa menjadi enak secara keseluruhan. Jika akan melakukan uji rasa maka harus memperhatikan keadaan tiap individu yang mengerti akan rasa nasi, tekstur dan warna yang netral tanpa ada anggapan daerah melainkan berdasarkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya.





















DAFTAR PUSTAKA
Beachell, H.M. 1970. Different plant types and their characteristics. Rice Production Manual, University Of  The Philippines : 38-40
Cush. 1982.Gram Quality of Hybrid Rice. IRRI. Manila. 304 p.
Djoko, S.D. 1988. struktur kandungan biji beras. Pusat penelitian dan pengembangan tanaman pangan. Bogor. 112 p.
Escuro,P.B. 1970. Recommended varietas and their cultural characteristics. Rice Production Manual, University Of  The Philippines : 40-44
Harahap, Z.,S.Ibrahim, I.J. Soemantri dan T. W. Susanto. 1984. Cibandung Varietas Padi Dengan Mutu Baik . Penelitian Pemberitaan Puslitbang .III(40) : 13-18
Sabran, M., S. Sulaiman, I. Khairullah, M. Imberan, dan M. Saleh. 2000. Interaksi genotipe-lingkungan galur harapan padi rawa. Buletin Agronomi XXVIII (1) : 22-26
Suismono, S. J. Munarso, dan Jumali. 1999. Rancangan standar mutu beras giling untuk perdagangan. Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV : 273-281
Siregar, H. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Sastra Hudaya. Bogor.324 p.
Suwandi A.S.,Hrasida, B.Ahmad, dan H. Zaenudin. 1985. Pewarisan Kadar Amilosa pada Padi . Penelitian Pertanian. V(1) : 104-105.
Widjono, A., dan M. Syam. 1982. Penelitian Pemuliaan Padi. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. 148p.
Weeb. 1990. Rice quality and grades. B.S. Luh (ed) Rice. Vol II. 89-119







Tidak ada komentar:

Posting Komentar