Selasa, 31 Juli 2012

Vegetasi Hutan Wanagama
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Indonesia adalah suatu negara kepulauan yang memiliki hutan tropika terbesar kedua di dunia, kaya dengan keanekaragaman hayati dan dikenal sebagai salah satu dari 7 (tujuh) negara megabiodiversity kedua setelah Brazilia. Distribusi tumbuhan tingkat tinggi yang terdapat di hutan tropis Indonesia lebih dari 12 % (30.000) dari yang terdapat di muka bumi (250.000). Sebagaimana telah diketahui bersama, tumbuh-tumbuhan tersebut telah dimanfaatkan manusia dalam kehidupan, sejak awal peradaban seperti untuk sandang, pangan, papan, energi, dan sumber ekonomi.
Dewasa ini sumber daya hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman yang ada di hampir sebagian besar wilayah Indonesia telah mengalami penurunan fungsi secara drastis dimana hutan tidak lagi berfungsi secara maksimal sebagai akibat dari eksploitasi kepentingan manusia baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.penyelamatan hutan seperti dibuatnya hutan Wanagama ini adalah suatu upaya dalam menanggulangi suatu bencana.
Hutan merupakan salah satu pusat keanekaragaman jenis tumbuhan yang belum banyak diketahui dan perlu terus untuk dikaji. Hutan berpotensi sebagai penahan erosi dan menghijaukan tanah yang tandus. Karena hutan Wanagama sendiri merupakan hutan buatan yang sengaja dibuat manusia dalam upaya sebagai penghijauan lahan yang tandus. Oleh karena itu untuk lebih mengetahui keanekaragaman dan vegetasi suatu hutan, maka perlu dilakukan studi untuk mempelajari vegetasi hutan. Salah satunya adalah hutan Wanagama
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana penerapan metode Quadrat Sampling Techniques di Hutan Wanagama?
2. Jenis-jenis tumbuhan apa saja yang ditemukan di hutan wanagama?
3. Bagaimana menganalisa struktur vegetasi di Hutan Wanagama?
C. Tujuan
1. Menerapkan metode pengambilan data pada studi vegetasi Hutan Wanagama dengan teknik ploting (Quadrat Sampling Techniques)
2. Mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan di Hutan Wanagama
3. Menganalisa struktur vegetasi Hutan Wanagama.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Vegetasi
Vegetasi merupakan unsur yang dominan yang mampu berfungsi sebagai pembentuk ruang, pengendalian suhu udara, memperbaiki kondisi tanah dan sebagainya. Vegetasi dapat menghadirkan estetika tertentu yang alamiah dari garis, bentuk, warna, dan tekstur yang ada dari tajuk, daun, batang, cabang, kulit batang, akar, bunga, buah maupun aroma yang ditimbulkan dari daun, bunga maupun buahnya (Rochman, 2005).
Kimball (2005) menyatakan bahwa hutan hujan tropis mencapai perkembangan sepenuhnya pada bagian belahan bumi sebelah barat dan mencapai perkembangan sepenuhnya di bagian tengah dan selatan,sangat beragam spesiesnya. Disana, jarang dijumpai dua pohon dari spesies yang sama tumbuh berdekatan.vegetasinya sedemikian rapat sehingga cahaya sangat sedikit yang sampai ke dasar hutan.
Wilayah hutan hujan tropis mencakup ± 30% dari luas permukaan bumi dan terdapat mulai dari Amerika Selatan, bagian tengah dari benua Afrika, sebagian anak benua India, sebagian besar wilayah Asia Selatan dan wilayah Asia Tenggra, gugusan kepulauan di samudra Pasifik, dan sebagian kecil wilayah Australia. Pada umumnya wilayah hutan hujan tropis dicirikan oleh adanya 2 musim dengan perbedaan yang jelas, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Ciri lainnya adalah suhu dan kelembaban udara yang tinggi, demikian juga dengan curah hujan, sedangkan hujan merata sepanjang tahun (Ewusie, 1980).
Menurut Soedjiran et all (1993) hutan hujan tropis (tropical rain forest) terdapat di daerah tropis yang basah dengan curah hujan yang tinggi dan tersebar sepanjang tahun, seperti di Amerika tengah dan selatan, Asia tenggara, Indonesia dan Australia timur laut. Dalam hutan ini pohon-pohonnya tinggi dan pada umumnya berdaun lebar dan selalu hijau, jumlah jenis besar. Sering terdapat paku-paku pohon, tanaman merambat berkayu liana yang sering dapat mencapai puncak pohon-pohon yang tinggi dan epifit. Hutan ini kaya akan jenis-jenis hewan invertebrata dan vertebrata.
Analisis vegetasi hutan merupakan studi untuk mengetahui komposisi dan struktur hutan. Kegiatan analisis vegetasi pada dasarnya ada dua macam, yaitu metode dengan petak dan tanpa petak. Salah satu metode dengan petak yang banyak digunakan adalah kombinasi antara metode jalur (untuk risalah pohon) dengan metode garis petak (untuk risalah permudaan) dalam kegiatan-kegiatan penelitian di bidang ekologi hutan seperti halnya pada bidang-bidang ilmu lainnya yang bersangkut paut dengan Sumber Daya Alam (Latifah, 2005).
B. Struktur Vegetasi
Struktur vegetasi merupakan susunan anggota komunitas vegetasi pada suatu area yang dapat dinilai dari tingkat densitas (kerapatan) individu dan diversitas (keanekaragaman) jenis. Komposisi dan struktur suatu vegetasi merupakan fungsi dari beberapa faktor seperti : flora setempat, habitat, (iklim,tanah dan lain-lain), waktu dan kesempatan. Komposisi dan struktur vegetasi tumbuhan tidak dapat dilepaskan dari pentingnya mengetahui air tanah dan ketersediaan air tanah bagi tumbuhan di sekitarnya. Ketersediaan air dalam tanah ditentukan oleh kemampuan partikel tanah memegang air. Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah yang terdapat dalam ruang-ruang antar butir tanah yang membentuknya. Air tanah dapat dibedakan menjadi dua yaitu air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah dangkal terdapat pada bidang tanah yang mempunyai pengaruh besar terhadap proses pembentukan tanaman. Melalui profil, kedalaman air dapat diduga berdasarkan tinggi, maka air tanah yang selalu mengalami periode naik turun sesuai dengan keadaan musim atau faktor lingkungan luar lainnya. Kedalaman muka air tanah yang dimaksud adalah kedalaman muka priotik yaitu kedalaman muka air tanah sumur-sumur gali yang ada (Kusumawati, 2008).
Penyelamatan fungsi hutan dan perlindunganya sudah saatnya menjadi tumpuan harapan bagi kelangsungan jasa produksi ataupun lingkungan untuk menjawab kebutuhan mahkluk hidup Mengingat tinggi dan pentingya nilai hutan, maka upaya pelestarian hutan wajib dilakukan apapapun konsekuensi yang harus dihadapi, karena sebetulnya peningkatan produktivitas dan pelestarian serta perlindungan hutan sebenarnya mempunyai tujuan jangka panjang. Produktivitas tegakan ataupun ekosistem hutan Perlindungan dan aspek kesehatan hutan sebagai mata rantai pemeliharaan (Marsono, 2004).
Perlindungan dan aspek kesehatan hutan sebagai mata rantai pemeliharaan atau pembinaan hutan harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam satu kesatuan pengelolaan hutan dalam rangka melindungi hutan berikut komponen yang ada didalamnya dari berbagai macam faktor penyebab kerusakan. Hutan jika ditinjau dari aspek kesehatannya terbagi atas tiga komponen yakni dari sisi pemanfaatan yakni pada tegakkan hutan, lingkungan yakni terhadap sebuah komunitas dan kesehatan ekosistem yang lebih menjurus pada landscape (Marsono, 2004).
C. Hutan Wanagama
Kawasan Hutan Wanagama yang luasnya hampir mencapai 600 hektar merupakan tumpuan harapan bagi banyak orang yang bermukim di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya untuk kepentingan ekonomis ataupun kebutuhan akan jasa lingkungan sebagai paru–paru kota dan sebagai media pembelajaran alamiah ataupun oleh pemerintah daerah sebagai salah satu aset wisata alam bagi daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mengingat banyaknya manfaat yang dapat diperoleh lewat kehadiran kawasan Hutan wanagama ini, maka upaya untuk mempertahankan fungsi dan peran kawasan ini harus terus dilakukan (Irwanto, 2006).
Bahwa hutan yang sehat terbentuk apabila faktor-faktor biotik dan abiotik dalam hutan tersebut tidak menjadi faktor pembatas dalam pencapaian tujuan pengelolaan hutan saat ini maupun masa akan datang. Kondisi hutan sehat ditandai oleh adanya pohon-pohon yang tumbuh subur dan produktif, akumulasi biomasa dan siklus hara cepat, tidak terjadi kerusakan signifikan oleh organisme pengganggu tumbuhan, serta membentuk ekosistem yang khas (Kimmins, 1987).
Ekosistem hutan yang sehat terbentuk setelah hutan mencapai tingkat perkembangan klimaks, yang ditandai oleh tajuk berlapis, pohon-pohon penyusun terdiri atas berbagai tingkat umur, didominasi oleh pohon-pohon besar, serta adanya rimpang yang terbentuk karena matinya pohon. Ekosistem hutan yang sehat tercapai bila tempat tumbuhnya dapat mendukung ekosistem untuk memperbaharui dirinya sendiri secara alami, mempertahankan diversitas penutupan vegetasi, menjamin stabilitas habitat untuk flora dan fauna, serta terbentuknya hubungan fungsional di antara komunitas tumbuhan, hewan dan lingkungan (Widyastuti, 2004).
Kesehatan hutan dan kesehatan ekosistem tersebut menunjukkan bahwa keduanya merupakan tingkatan-tingkatan integrasi biologis. Konsekuensinya ialah antara keduanya mempunyai karakteristik yang sama, namun demikian terdapat perbedaan yang fundamental. Aspek kesehatan ekosistem lebih berhubungan dengan pola penutupan vegetasi dalam kisaran kondisi-kondisi ekologi yang luas, sedangkan kesehatan hutan lebih menekankan pada kondisi untuk memperoleh manfaatnya (Sumardi,2004).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Deskripsi lokasi
Hutan Wanagama terletak di Kecamatan Playen dan Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Secara geografis terletak antara 110030’38” dan 110033’3” Bujur Timur dan 7053’25” dan 7054’52” Lintang Selatan. Dengan batas-batas wilayah, sebelah Timur berbatasan dengan jalan raya Yogya-Wonosari sepanjang 3.1 km, mulai dari sungai Oyo di Bunder sampai di perempatan desa Gading. Sebelah selatan berbatasan dengan desa Gading, Banaran dan Ngleri, dengan panjang jalan batas hutan 6.3 km. Sebelah barat berbatasan dengan petak 3, petak 4 dan petak 8. Sebelah utara berbatasan dengan dukuh kemuning untuk petak 6, petak 7 dan sebagian kecil dengan petak 13, selebihnya berbatasan dengan sungai Oyo (Irwanto, 2006).
B. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada :
Hari/tgl : Minggu, 26 Maret 2010
Waktu : 08.00 – 12.00 WIB
Tempat : Hutan Wanagama, Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta
C. Metode kerja
1. Alat dan bahan
a. Alat
1. termometer udara
2. termometer tanah
3. soil tester
4. meteran kamera
5. kamera
6. kantong plastik
7. kertas label
b. Bahan
Berbagai macam jenis tumbuhan di Wanagama
c. Cara kerja
Cara kerja yang dilakukan dalam praktikum ini sebagai berikut :
1. Menentukan lokasi dan batas-batas wilayah studi
2. Menentukan luas minimum plot sampling
a. Secara acak ditentukan kuadran I dengan panjang sisi 4 m atau luas 16 m2.
b. Identifikasi jenis dan dihitung jumlah individunya
c. Kuadran I diperluas menjadi 2 kali lipat luasnya, ukuran kuadran II (4 m x 8 m = 32 m2).
d. Identifikasi jenis dan dihitung jumlah individu dari jenis yang belum ditemukan pada kuadran I, dan apabila ditambahkan dengan jenis pada kuadran I maka diperoleh jumlah jenis pada kuadran II.
e. Kuadran II diperluas hingga berukuran 8m x 8m = 64 m2, selanjutnya kuadran II ditambah dengan perluasannya disebut kuadran III.
f. Identifikasi jenis dan dihitung junlah individu yang ditemukan
g. Perluasan kuadran diteruskan dan diikuti dengan identifikasi jenis dan perhitungan individunya, sampai jumlah jenis tidak ada lagi dengan penambahan yang tak berarti.
h. Pembuatan grafik
i. Membuat grafik berdasarkan data yang diperoleh dengan sumbu X sebagai luas kuadran, dan sumbu Y sebagai jumlah kumulatif jenis.
j. Titik sumbu X 10% dari luas kudran terbesar dan titik sumbu Y 10% dari jumlah kumulatif tertinggi jenis.
k. Garis ordinasi dibuat melalui titik temu 10% jumlah spesis dengan 10% luas plot terbesar.
l. Dibuat garis sejajar dengan garis ordinal yang menyinggung grafik jumlah kumulatif jenis. Titik singgung antara garis sejajar dengan grafik, diproyeksi pada sumbu Y, maka ditemukan luas plot yang dimaksud.
3. Pengamatan dan identifikasi jenis yang belumdiketahui.
4. Melakukan analisis data vegetasi untuk penentukan frekuensi (FA dan FR%) dan densitas (DA dan DR%).


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Tabel spesimen
Spesies Jumlah individu pada kuadrant total
I II III IV V
Spesies A 26 29 41 67 106 106
Spesies B 3 9 14 19 27 27
Mojo 14 29 36 58 83 83
Saga pihon 7 24 38 73 97 97
Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) 72 77 173 333 515 515
Spesies C 2 2 2 3 3 3
Cissus repens 7 28 49 81 251 251
Spesies D 1 1 1 1 4 4
meniran
Maclura coccinensis 7 15 23 28 43 43
Lilin 1 2 4 6 11 11
Spesies E 1 1 1 1 1 1
Eleuteranthera ruderalalis 1 3 5 7 14 14
Anggrek tanah 9 9 10 11 11 11
Spesies F 1 1 1 1 1 1
Spesies G 1 1 2 5 5 5
Spesies H 2 2 2 3 3 3
Pakan ulo - 1 1 1 3 3
Spesies I - 1 1 1 3 3
Spesies J - 3 3 6 13 13
Akasia (Acacia mangium) - 1 1 3 11 11
Spesies K - - - 4 4 4
Spesies L - - 1 3 5 5
Kecubung - - - 1 1 1
Benik-benikan - - - 4 4 4
Jambu-jambuan - - - - 2 2
Gnetum gnemon - - - - 1 1
Jamur - - - - 1 1
Spesies M - - - - 3 3

b. Tabel Penentuan Nilai
NAMA SPESIES DENSITAS ABSOLUT DENSITAS
RELATIF FREKUENSI ABSOLUT FREKUENSI RELATIF (%)
Spesies A 0,4 8,20 1 4,60
Spesies B 0,11 2,30 1 4,60
Mojo 0,32 6,60 1 4,60
Saga pihona 0,38 7,80 1 4,60
Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) 2,01 41,60 1 4,60
Spesies C 0,01 0,20 1 4,60
Cissus repens 0,98 20,30 1 4,60
Spesies D 0,02 0,41 1 4,60
Maclura coccinensis 0,17 3,50 1 4,60
Lilin 0,04 0,80 1 4,60
Spesies E 0,003 0,06 1 4,60
Eleuteranthera ruderalalis 0,05 1,03 1 4,60
Anggrek tanah 0,04 0,80 1 4,60
Spesies F 0,003 0,06 1 4,60
Spesies G 0,02 0,41 1 4,60
Spesies H 0,01 0,20 1 4,60
Pakan ulo 0,07 1,45 0,80 3,70
Spesies I 0,01 0,20 1 3,70
Spesies J 0,05 1,03 0,80 3,70
Akasia (Acacia mangium) 0,04 0,82 0,80 3,70
Spesies K 0,02 0,41 0,60 2,70
Spesies L 0,002 0,41 0,40 1,80
Kecubung 0,003 0,06 0,40 1,80
Benik-benikan 0,02 0,41 0,40 1,80
Jambu-jambuan 0,007 0,14 0,20 0,90
Gnetum gnemon 0,003 0,06 0,20 0,90
Jamur 0,003 0,06 0,20 0,90
Spesies M 0,01 0,20 0,20 0,90
∑=4,82 ∑=21,80




c. Data Komponen Abiotk
Komponen yang diukur Plot
I II III IV V
Udara Suhu (°C) 31 31 31 31 31

Tanah pH 6,4 6,4 6,4 6,4 6,4
Kelembaban 91 91 91 91 91
Suhu (°C) 27 27 27 27 27
Ketinggian (mdpl) 196 196 196 196 196

d. Grafik

 
B. Pembahasan
Hutan Wanagama terletak di Kecamatan Playen dan Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Hutan Wanagama merupakan hutan buatan yang dibuat oleh fakultas kehutanan, Universitas Gadjah Mada. Tujuan dibuat hutan tersebut adalah sebagai penghijauan karena lahan yang tandus. Pada awal pembangunannya, Wanagama merupakan bukit gundul yang tandus dan kering. Kehidupan di lokasi ini dimulai ketika tim dari Fakultas Kehutanan UGM melakukan penghijauan dengan teori pembelukaran. Mereka menanam sebanyak mungkin jenis tanaman pionir yang mampu memperbaiki kondisi tanah, tata air, dan iklim mikro.
Tanaman pionir yang didominasi jenis legum memiliki kemampuan mengikat nitrogen di udara sehingga sanggup menyuburkan tanah. Kesuburan tanah juga didongkrak dari tumpukan biomassa humus yang berasal dari pembusukan daun. Hasil dari teori pembelukaran ini baru bisa dinikmati setelah kurun waktu 10-15 tahun.
Analisis vegetasi hutan memerlukan hal yang diperhitungkan yaitu terkait dengan nilai penting yang didapatkan dari praktikum lapangan ini.analisa ini digunakan untuk mengetahui struktur dan jenis vegetasi hutan Wanagama. Dengan mendeskripsikan tumbuhan maka dapat dihitung komposisi, struktur, densitas/kemelimpahan, frekuensi/sebaran dan penutupan tajuk dari spesies yang ditemukan.
Struktur vegetasi merupakan susunan anggota komunitas vegetasi pada suatu area yang dapat dinilai dari tingkat densitas (kerapatan) individu dan diversitas (keanekaragaman) jenis. Struktur hutan Wanagama tersusun atas berbagai densitas tumbuhan dengan lingkungan abiotik yang mendukung berlangsungnya hutan tersebut. Struktur vegetasi pada penelitian ini didasarkan pada kemelimpahan jenis spesies dan sebaran/frekuensi pada tiap plot.

 Pada studi vegetasi yang telah dilakukan, ditemukan 28 jenis tanaman yang berbeda.
Indeks nilai penting yang diukur yaitu densitas dan frekuensi. Kemelimpahan/kerapatan (densitas) merupakan banyaknya individu persatuan luas atau volume. Densitas/kemelimpahan terbesar ditunjukkan pada spesies mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) dengan densitas relatif sebesar 41,60 dengan karakter morfologi akar tunggang, batang berkayu, pertulangan daunnya sejajar, mempunyai buah yang bersayap berwarna coklat dan di dalam buahnya terdapat biji, rasa buahnya pahit. Densitas terkecil ditunjukkan oleh spesies E, F, kecubung, Gnetum gnemon, dan jamur. Dengan jumlah densitas relatif sebesar 0,06.
Frekuensi/sebaran merupakan distribusi/sebaran yang terjadi dan terdapat pada setiap plot. Frekuensi tersebut menggambarkan kemampuan tumbuhan dalam bertahan hidup dsesuai lingkungannya dan kemampuan tumbuh. Frekuensi terbesar ditunjukkan pada spesies A, B, Mojo, Saga pihon , Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.), C, Cissus repens, D, Maclura coccinensis, Lilin, E, Eleuteranthera ruderalalis, Anggrek tanah, F, G, dan H. Sedangkan frekuensi terkecil ditunjukkan pada spesies jambu-jambuan, Gnetum gnemon, jamur, dan spesies M.
Kemelimpahan/densitas yang terjadi adalah keseluruhan jumlah tumbuhan pada semua plot yang paling dominan yaitu mahoni. Sedangkan frekuensi yang terjadi adalah sebaran pada masing-masing plot yaitu spesies A, B, Mojo, Saga pihon , Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.), C, Cissus repens, D, Maclura coccinensis, Lilin, E, Eleuteranthera ruderalalis, Anggrek tanah, F, G, dan H. pola sebaran/frekuensi tidak mempengaruhi pada densitasnya. Karena frekuensi hanya kemelimpahan tiap plot sedangkan densitas adalh keseluruhan individu per plot. Begitu juga densitas tidak mempengaruhi besar kecilnya frekuensi.
Persebaran dan adaptasi tumbuhan merupakan faktor yang mempengaruhi struktur hutan Wanagama. Lapisan yang terdapat di hutan Wanagam ada tiga yaitu lapisan dasar/semak (tumbuhan merumput), lapisan tengah (perdu), dan lapisan atas. Vegetasi hutan akan nampak ketika terjadi pergantian musim dan cuaca. Luas penutupan tajuk adalah luas daerah yang dihuni tumbuhan. Penutupan tersebut menggambarkan adanya penguasaan pada daerah tersebut yaitu ditunjukkan dengan peneduhan oleh batang, daun, cabang jika dilihat dari sisi atas. Pada praktikum lapangan ini tidak dilakukan pengamatan mengenai luas penutupan tajuk. Ini dikarenakan pada saat penelitian kurangnya penyinaran oleh matahari dan faktor cuaca yang saat itu hujan, sehingga tidak terlihat luas penutupan tajuk oleh tumbuhan di hutan Wanagama.
Sruktur vegetasi di hutan Wanagama dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik lainnya. Faktor biotik seperti adanya semut, rayap, jamur maupun dekomposer lain yang membantu proses pertumbuhan tumbuhan. Faktor abiotik seperti tanah yang lembab dan kaya akan air yang di atasnya terdapat potongan ranting, daun dan serasah-serasah yang kaya mengandung humus juga akan mempengaruhi faktor biotiknya. Jika serasah-serasah tersebut didekomposisi oleh dekomposer, maka akan menjadikan tanah menjadi subur. Suhu, pH, kelembaban, ketinggian maupun intensitas cahaya juga berpengaruh pada vegetasi hutan Wanagama. Iklim yang mendukung dapat mempengaruhi kemelimpahan dan keberagaman spesies yang tumbuh di hutan Wanagama. Karena penlitian yang telah dilakukan yaitu pada bulan Maret yang masih termasuk musim penghujan.
Metode yang digunakan dalam vegetasi hutan Wanagama adalah teknik ploting (Quadrat Sampling Techniques). Menggunakan tehnik itu karena untuk menghitung vegetasi hutan yang begitu luas diperlukan metode yang menerapkan perluasan plot untuk menghitung densitas dan sebaran/frekuensi dari vegetasi hutan Wanagama yang nantinya dapat diketahui luas minimum plotnya. Perluasan plot yang telah dilakuakn yaitu sebanyak 5 kali dengan total perluasan yaitu 256 m2. Dari tabel yang didapatkan maka disajikan dalam bentuk grafik dan diperoleh luas minimum plot yaitu 32 m2. Luas mininmum plot tersebut adalah luas yang ideal digunakan untuk penelitian berikutnya, karena kemelimpahan pada plot tersebut masih banyak dibandingkan dengan yang lain.
Berdasarkan analisa nilai penting di atass yang mencakup densitas relatif dan frekuensi relatif, maka tumbuhan yang kemelimpahannya paling banyak yaitu mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) dan frekuensi relatif terbesar adalah spesies A, B, Mojo, Saga pihon , Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.), C, Cissus repens, D, Maclura coccinensis, Lilin, E, Eleuteranthera ruderalalis, Anggrek tanah, F, G, dan H. Tujuan hutan itu sendiri adalh sebagai penanggulangan erosi dan lahan yang tandus menjadi hijau kembali (penghijauan). Potensi hutan di wanagama dapat sebagai penanggulangan pengikisan tanah di daerah sekitarnya.
 
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hutan Wanagama mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan yang melimpah karena hutan tersebut menyajikan berbagai jenis tumbuhan dan jumlah spesies/ kemelimpahan yang nyata. Tujuan dibuatnya hutan Wanagama sendiri untuk penghijauan dan penelitian. Penelitian yang telah dilakukan dengan metode Quadrat Sampling Tecnique tepat digunakan untuk mengetahui vegetasi hutan tersebut. Luas minimum plot yang didapatkan yaitu 32 m2 dan disitulah terjadi penambahan spesies yang paling banyak.
Jenis-jenis tumbuhan yang diperoleh dari pengamatan yaitu sebanyak 28 spesies. Kemlimpahan yang paling banyak di hutan Wanagama yaitu ditunjukkan oleh spesies Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.). Struktur vegetasi dilihat dari nilai penting yaitu densitas relatif dan frekuensi relatifnya.
B. Saran
Hasil pengamatan hutan Wanagama yang telah dilakukan diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pada peneliti berikutnya pada umumnya. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini dan semoga laporan studi vegetasi hutan ini dapat diapresiasi. Amin. Marilah kita senantiasa mulai menyayangi diri sendiri yang dapat dimulai dengan menyayangi hutan di Indonesia. Salam konservasi.
 
Daftar Pustaka

Ewusie, J. Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Terjemahan oleh Tanuwijaya U. Bandung: ITB
Irwanto. 2006. Penilaian kesehatan hutan tegakan jati (Tectona grandis) dan eucalyptus (Eucalyptus pellita) pada Kawasan hutan wanagama. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada
Kimball. J.W. 2005. Biologi Jilid 3 Edisi Kelima. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga
Kimmins, J.P. 1987. Forest Ecology. New York : MacMillan Publishing Company
Kusumawati, J. 2008. Analisis Struktur Vegetasi Tumbuhan Hubungannya dengan Ketersediaan Air Tanah di Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Marsono, Djoko. 2004. Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup. Yogyakarta : BIGRAF Publishing bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL),
Rochman. 2005. Biologi. Bandung : CV. Pustaka Mulia
Sumardi dan S.M. Widyastuti. 2004. Dasar-Dasar Perlindungan Hutan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh - tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).
Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya. Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan:
1. Mempelajari tegakan hutan, yaitu pohon dan permudaannya.
2. Mempelajari tegakan tumbuhan bawah, yang dimaksud tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput atau alang-alang dan vegetasi semak belukar.
Dari segi floristis ekologis pengambilan sampling dengan cara “random sampling” hanya mungkin digunakan apabila lapangan dan vegetasinya homogen, misalnya padang rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih tepat dipakai “systematic sampling”, bahkan “purposive sampling” pun boleh digunakan pada keadaan tertentu. Karena titik berat analisis vegetasi terletak pada komposisi spesies, maka dalam menetapkan besarnya atau banyaknya petak-petak sampling perlu digunakan suatu kurva (lengkung) spesiesnya. Kurva spesies tersebut diperlukan untuk:
1. Luas atau besar minimum suatu petak yang dapat mewakili tegakan.
2. Jumlah minimal petak-petak sampling kecil yang diperlukan agar hasilnya mewakili tegakan.

1.2 Rumusan Masalah
1.Apa yang dimaksud dengan analisis vegetasi?
2. Bagaimana cara membuat kurva lurus minimum?
3. Apa yang dimaksud metode titik dan garis?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan analisis vegetasi.
2. Untuk mengetahui cara membuat kurva lurus minimum.
3. Untuk mengetahui metode titik dan garis.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Analisis Vegetasi
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penvusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan.
Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan ke dalam 3 kategori yaitu :
1. Pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda.
2. Menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal.
3. Melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau beberapa faktor lingkungan (Greig-Smith, 1983).
Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-petak pengamatan yang sifatnya permanen atau sementara. Menurut Soerianegara (1974) petak-petak tersebut dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau dengan metode tanpa petak. Pola komunitas dianalisis dengan metode ordinasi yang menurut Dombois dan E1lenberg (1974) pengambilan sampel plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau secara subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu.
Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan (Marsono, 1987). Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan rnempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis jenis dengan perubahan faktor lingkungan.
Beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kuarter.
2.2 Kurva Luas Minimum
Pada cara ini kita hanya mempelajari satu petak sampling yang mewakili suatu tegakan hutan. Besarnya petak contoh ini tidak boleh terlalu kecil hingga tidak menggambarkan tegakan yang dipelajari. Ukuran minimum dari suatu petak tunggal tergantung pada kerapatan tegakan dan banyaknya jenis-jenis pohon yang terdapat. Makin jarang tegakannya atau makin banyak jenisnya makin besar ukuran petak tunggal yang digunakan. Ukuran minimum ini ditetapkan dengan menggunakan kurva spesies-area. Caranya dengan mendata jenis-jenis pohon yang terdapat dalam suatu petak kecil. Ukuran petak ini lalu diperbesar dua kali dan jenis-jenis pohon yang terdapat didata pula. Pekerjaan ini dilanjutkan sampai saat dimana penambahan luas petak tidak menyebabkan penambahan yang berarti pada banyaknya jenis. Biasanya, luas minimum ini ditetapkan dengan dasar: penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah jenis lebih dari 10% atau 5%.
Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap dapat mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik Kurva Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan : (1) luas minimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2) jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur.
Caranya adalah dengan mendaftarkan jenis-jenis yang terdapat pada petak kecil, kemudian petak tersebut diperbesar dua kali dan jenis-jenis yang ditemukan kembali didaftarkan. Pekerjaan berhenti sampai dimana penambahan luas petak tidak menyebabkan penambahan yang berarti pada banyaknya jenis. Luas minimun ini ditetapkan dengan dasar jika penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah jenis lebih dari 5-10% (Oosting, 1958; Cain & Castro, 1959). Untuk luas petak awal tergantung surveyor, bisa menggunakan luas 1m x1m atau 2m x 2m atau 20m x 20m, karena yang penting adalah konsistensi luas petak berikutnya yang merupakan dua kali luas petak awal dan kemampuan pengerjaannya dilapangan. Untuk lebih jelas bagan pekerjaan dapat dilihat pada gambar 1.
Sebagai contoh, hasil pengukuran KSA tumbuhan bawah dapat dilihat pada tabel 1. berikut ini :

Dari hasil diatas dapat dilihat bahwa penambahan jenis pada ukuran petak 8m x 16m sudah mencapai angka dibawah 5% (sesuai syarat Oosting, 1958; Cain & Castro, 1959), maka dapat ditetapkan bahwa luas petak ukur yang dapat mewakili komunitas pada rumput tersebut adalah adalah 8m x 16m atau 0.128 ha. Luasan ini bukanlah harga mutlak bahwa luas petak ukur yang harus kita gunakan adalah 0.128 ha, tapi nilai tersebut adalah nilai minimum, artinya kita bisa menambah ukuran petak contoh atau bahkan memodifikasinya karena yang harus kita perhatikan bahwa petak contohnya tidak kurang dari hasil KSA. Contoh untuk memudahkan pekerjaan dilapangan, sebaiknya ukuran petak tersebut berbentuk persegi, sehingga petak hasil KSA tersebut dapat diubah menjadi ukuran 12m x12m.
Jika sudah dapat ditentukan luas petak minimum, maka juga harus dapat ditentukan jumlah petak contoh keseluruhan. Hitungann sederhananya, tergantung kita menginginkan berapa luas total sampling yang kita inginkan. Sebagai contoh luas kawasan yang akan kita eksplorasi adalah 10 ha, ukuran petak contoh yang ditentukan 12m x 12m dan kita menginginkan intensitas sampling (IS) 5% (artinya, kita hanya akan mengukur 1% dari luas total 10 ha). Maka jumlah petak contoh yang harus kita gunakan adalah :
Dik : N = 10 ha
IS = 5% = 5% x 10ha = 0.5 ha
LPC = 12m x12m = 0.0144 ha
Ditanya : Jumlah petak contoh (n) ?
Jawab :
n = 0.5 ha / 0.0144 ha
n = 34.72
n = 35 petak
Hitungan diatas adalah perhitungan sederhana tanpa mempertimbangkan tingkat ketelitian dan tingkat eror pada pengambilan sampling.

Gbr 1. Bentuk Pertambahan Petak Kurva Spesies Area
Cara peletakan petak contoh ada dua, yaitu cara acak (random sampling) dan cara sistematik (systematic sampling), random sampling hanya mungkin digunakan jika vegetasi homogen, misalnya hutan tanaman atau padang rumput (artinya, kita bebas menempatkan petak contoh dimana saja, karena peluang menemukan jenis bebeda tiap petak contoh relatif kecil). Sedangkan untuk penelitian dianjurkan untuk menggunakan sistematik sampling, karena lebih mudah dalam pelaksanaannya dan data yang dihasilkan dapat bersifat representative. Bahkan dalam keadaan tertentu, dapat digunakan purposive sampling . Perhatikan kurva berikut:



2.3 Metode garis dan titik
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada. (Syafei, 1990).
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam makalah ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).
Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990). Di bawah ini dapat dilihat pengaturan hutan mangrove berdasarkan pantulan spektral

Pada metode garis ini, sistem analisis melalui variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001).
Sedangkan metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001).
Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh sebuah nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan sebagai dasar pemberian nama suatu vegetasi yang diamati.Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994).
v Metode Garis
1. Menyebarkan 10 garis masing-masing sepanjang 1 meter secara acak atau sistematis.
2. Melakukan analisis vegetasi berdasarkan variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi.
3. Melakukan perhitungan untuk mencari harga relatif dari setiap variabel untuk setiap tumbuhan.
4. Melanjutkan perhitungan untuk mencari harga nilai penting dari setiap jenis tumbuhan.
5. Menyusun harga nilai penting yang sudah diperoleh pada suatu tabel dengan ketentuan bahwa tumbuhan yang nilai pentingnya tertinggi diletakkan pada tempat teratas.
6. Memberi nama vegetasi yang telah digunakan berdasarkan 2 jenis / spesies yang memiliki nilai penting terbesar.
v Metode Intersepsi Titik
1. Membuat 10 titik yang masing-masing titik berjarak 10 cm pada seutas tali raffia.
2. menancapkan kawat atau lidi pada setiap titik dan menebar tali raffia tersebut secara acak atau sistematis.
3. Melakukan analisis vegetasi berdasarkan variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi pada setiap tumbuhan yang mengenai setiap kawat atau lidi tersebut.
4. Melakukan 10 kali pengamatan, sehingga akan diperoleh 10 seri titik.
5. Melakukan perhitungan untuk mencari harga relatif dari setiap variabel untuk setiap tumbuhan.
6. Melanjutkan perhitungan untuk mencari harga nilai penting dari setiap jenis tumbuhan.
7. Menyusun harga nilai penting yang sudah diperoleh pada suatu tabel dengan ketentuan bahwa tumbuhan yang nilai pentingnya tertinggi diletakkan pada tempat teratas.
8. Memberi nama vegetasi yang telah digunakan berdasarkan 2 jenis / spesies yang memiliki nilai penting terbesar
Cuplikan berupa garis, untuk vegetasi sangat dipengaruhi oleh komleksitas dari hutan tersebut. Makin sederhana makim pendek garisnya. Pada dasarnya garis sebesar 50 M samapai 100 M berdasarkan pengalaman sudah memperlihatkan hasil yang memadai. Vegetasi semak belukar diperlukan garis sepanjan 5M sampai 10M, dan untuk vegetasi yang sederhana cukup dengan garis sepanjang 1M.
Sistem analisis garis meliputi:
Kerapatan, didasarkan pada perhitungan jarak antara individu-individu sejenis yang dilewati garis, atau bila dinyatakan dengan jumlah individu yang terlewati garis. Dapat dihitung dengan rumus:
Kerapatan = Jumlah individu suatu jenis
Luas petak ukur
Kerapatan relative (%) = Kerapatan suatu jenis x 100
Kerapatan seluruh jenis
Kerimbunan, didasarkan pada panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, atau bila dinyatakan dalam prosen dapat dilakuan berdasarkan sperbandingan panjang penutupan garis yang terlewat individu tumbuhan terhadap panjang garis yang dibuat.
Frekuensi, pada dasarnya agak sulit menentukan apabila garis yang dibuat merupakan garis tunggal. Apabila garis itu dibagi dalam beberapa sektor garis maksa perhitungan frekuensi ini dinyatakan dengan kekerapan jenis yang dijumpai dalam sektpr – sektor garis tadi. Atau bila garisnya majemuk maka perhitungan tidak berbeda seperti pada metode kuadrat.
Nilai penting, harga ini didapatkan berdasarkan penjumlahan dari nilai relative dari sejumlah variabel yang telah diukur ( kerapatan relative, kerimbunan relative, dan frekuensi relative). Harga relative ini dapat dicari dengan perbandingan antara harga suatu variabel yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan 100%. Dalam tabel. jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harag nilai penting ini yang biasanya dari harga besar kekecil. Dan dua jenis tumbuhan yang terbesar harga nilai pentingnya dapat dipergunakan untuk menentukan penamaan bentuk vegetasi tadi.
Jika berbicara mengenai vegetasi, kita tidak bisa terlepas dari komponen penyusun vegetasi itu sendiri dan komponen tersebutlah yang menjadi fokus dalam pengukuran vegetasi. Komponen tumbuh-tumbuhan penyusun suatu vegetasi umumnya terdiri dari :
1. Belukar (Shrub) : Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai.
2. Epifit (Epiphyte) : Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.
3. Paku-pakuan (Fern) : Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.
4. Palma (Palm) : Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.
5. Pemanjat (Climber) : Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.
6. Terna (Herb) : Tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.
7. Pohon (Tree) : Tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.
Untuk tingkat pohon dapat dibagi lagi menurut tingkat permudaannya, yaitu :
a. Semai (Seedling) : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.
b. Pancang (Sapling) : Permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
c. Tiang (Poles) : Pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-petak pengamatan yang sifatnya permanen atau sementara. Menurut Soerianegara (1974) petak-petak tersebut dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau dengan metode tanpa petak.
Pada cara kurva luas minimum kita hanya mempelajari satu petak sampling yang mewakili suatu tegakan hutan. Besarnya petak contoh ini tidak boleh terlalu kecil hingga tidak menggambarkan tegakan yang dipelajari. Ukuran minimum dari suatu petak tunggal tergantung pada kerapatan tegakan dan banyaknya jenis-jenis pohon yang terdapat. Makin jarang tegakannya atau makin banyak jenisnya makin besar ukuran petak tunggal yang digunakan. Ukuran minimum ini ditetapkan dengan menggunakan kurva spesies-area.
Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut.

3.2 Saran
Apabila ingin melakukan melakukan suatu analisis terhadap suatu daerah, misalnya hutan mangrove hendaknya kita melakukan analisis vegetasi terhadap suatu daerah tersebut dengan menggunakan beberapa metode diantaranya yaitu: menentukan kurva luas minum, di misalkan pembuatan kurva diatas selembar kertas peta, maka pada saat menerapkan pada obyek langsung diperbesara dua kali. Metode yang kedua yaitu titik dan garis, apabila analisis yang akan digunakan bertujuan untuk menganalisis suatu vegetasi yang hanya terdapat satu jenis, maka metode inilah yangtepet digunakan, selain itu penggunaan metode ini harus tepat sasaran. Sedangkan untuk metode analisis vegetasi yang ketiga akan dipejelas oleh kelompok selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2008. http://iqbalali.com/2008/02/25/70/ (diakses tanggal 2 Desember 2010 ).
Anonymous. 2009. http://simanungkalitleontius.wordpress.com/2009/08/31/hello-world/(diakses pada tanggal 2 Desember 2010)
www. Irwantoshoot.com. Analisis Vegetasi Untuk Pengeloloan Hutan Lindung Pulau Marsegu Kabupaten Seram Bagian Barat Kepulauan Maluku. Yogyakarta: Universsitas Gajah Mada.
Penendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Baluran. 2009. Laporan Kegiatan analisa Vegetasi Rumput Di Savvana Kramat SPTN Wilayah I Bekol. Baluran Banyuwangi Jawa

Minggu, 29 Juli 2012

bakteri

Dari asal kata Bakterion (yunani = batang kecil). Di dalam klasifikasi bakteri digolongkan dalam Divisio Schizomycetes.
CIRI-CIRI UMUM

- Tubuh uniseluler (bersel satu)
- Tidak berklorofil (meskipun begitu ada beberapa jenis bakteri yang memiliki pigmen seperti klorofil sehingga mampu berfotosintesis dan hidupnya autotrof
- Reproduksi dengan cara membelah diri (dengan pembelahan Amitosis)
- Habitat: bakteri hidup dimana-mana (tanah, air, udara, mahluk hidup)
- Satuan ukuran bakteri adalah mikron (10-3)
Gbr. arsitektur suatu sel bakteri yang khas

BENTUK-BENTUK BAKTERI
- Kokus : bentuk bulat, monokokus, diplokokus, streptokokus,
stafilokokus, sarkina
- Basil : bentuk batang, diplobasil, streptobasil
- Spiral : bentuk spiral, spirilium (spiri kasar), spirokaet (spiral halus)
- Vibrio : bentuk koma
ALAT GERAK BAKTERI
Beberapa bakteri mampu bergerak dengan menggunakan bulu cambuk/flagel. Berdasarkan ada tidaknya flagel dan kedudukan flagel tersebut, kita mengenal 5 macam bakteri.
- Atrich : bakteri tidak berflagel. contoh: Escherichia coli
- Monotrich : mempunyai satu flagel salah satu ujungnya. contoh:
Vibrio cholera
- Lopotrich : mempunyai lebih dari satu flagel pada salah satu
ujungnya. contoh: Rhodospirillum rubrum
- Ampitrich : mempunyai satu atau lebih flagel pada kedua
ujungnya. contoh: Pseudomonas aeruginosa
- Peritrich : mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.
contoh: salmonella typhosa
NUTRISI BAKTERI

  1. Dengan dasar cara memperoleh makanan, bakteri dapat dibedakan menjadi dua:
    Bakteri heterotrof: bakteri yang tidak dapat mensintesis makanannya sendiri. Kebutuhan makanan tergantung dari mahluk lain. Bakteri saprofit dan bakteri parasit tergolong bakteri heterotrof.
  2. Bakteri autotrofl bakteri yagn dapat mensistesis makannya sendiri. Dibedakan menjadi dua yaitu (1) bakteri foto autotrof dan (2) bakteri kemoautotrof.
KEBUTUHAN AKAN OKSIGEN BEBAS
Dengan dasar kebutuhan akan oksigen bebas untuk kegiatan respirasi, bakteri dibagi menjadi 2:
- Bakteri aerob: memerlukan O2 bebas untuk kegiatan respirasinya
- Bakteri anaerob : tidak memerlukan O2 bebas untu kegiatan
respirasinya.

PERTUMBUHAN BAKTERI
dipengaruhi oleh beberapa faktor :

  1. Temperatur, umumnya bakteri tumbuh baik pada suhu antara 25 - 35 derajat C.
  2. Kelmbaban, lingkungan lembab dan tingginya kadar air sangat menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri
  3. Sinar Matahari, sinar ultraviolet yang terkandung dalam sinar matahari dapat mematikan bakteri.
  4. Zat kimia, antibiotik, logam berat dan senyawa-senyawa kimia tertentu dapat menghambat bahkan mematikan bakteri.

penggunaaan khamir dan kapang dalam industri


A.  Pengertian Kapang dan Khamir
1.    Kapang (mould/filamentousfungi)

Kapang (mould/Filamentous fungi) merupakan mikroorganisme anggota Kingdom Fungi yang membentuk hifa. Kapang bukan merupakan kelompok taksonomi yang resmi, sehingga anggota-anggota dari kapang tersebar ke dalam filum Glomeromycota, Ascomycota, dan Basidiomycot.
Jumlah spesies fungi yang telah teridentifikasi hingga tahun 1994 mencapai 70.000 spesies, dengan perkiraan penambahan 600 spesies setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 10.000 spesies merupakan kapang. Sebagian besar spesies fungi terdapat didaerah tropis disebabkan karena kondisi iklim daerah torpis yang hangat dan lembab yang mendukung pertumbuhannya. Habitat kapang sangat beragam, namun pada umumnya kapang dapat tumbuh pada substrat yang mengandung sumber karbon organik
Kapang melakukan reproduksi dan penyebaran menggunakan spora. Spora kapang terdiri dari dua jenis, yaitu spora seksual dan spora aseksual. Spora aseksual dihasilkan lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan spora seksual. Spora aseksual memiliki ukuran yang kecil (diameter 1-10 μm) dan ringan, sehingga penyebarannya umumnya secara pasif menggunakan aliran udara. Apabila spora tersebut terhirup oleh manusia dalam jumlah tertentu akan mengakibatkan gangguan kesehatan.
Gangguan kesehatan yang diakibatkan spora kapang terutama akan menyerang saluran pernapasan. Asma, alergi rinitis, dan sinusitis merupakan gangguan kesehatan yang paling umum dijumpai sebagai hasil kerja sistem imun tubuh yang menyerang spora yang terhirup. Penyakit lain adalah infeksi kapang pada saluran pernapasan atau disebut mikosis. Salah satu penyakit mikosisyang umum adalah Aspergillosis, yaitu tumbuhnya kapang dari genus Aspergillosis pada saluran pernafasan.

Sifat-sifat umum fungi
Kelompok eukariotik yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1.Mempunyai inti sel
2.Memproduksi spora
3.Tidak berkloropil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesa
4.Berkembang biak secara seksual dan aseksual
Salah satu contoh bentuk kapang:
(Gambar I: Kapang Saccharomvces cerevisiae)
2. Khamir/Ragi (Yeast )
Dalam Makanan Khamir (yeast) merupakan jasad renik (mikroorganisme) yang pertama digunakan manusia dalam industri pangan. Salah satu penggunaan utama ragi adalah pembentukan alkohol dari bahan baku karbohidrat. Proses fermentasi ini digunakan oleh perusahaan minuman semacam bir dan anggur.
Morfologi Khamir:
Ukuran panjang 1 – 5 mm sampai 20 – 50 mm dan Lebar 1 – 10 mm.
Struktur Khamir :
Morfologi khamir dapat diamati dengan menggunakan beberapa cara yaitu
pengamatan langsung dengan mikroskop.
(Gambar II. Ragi)
B.  Pemanfaatan Kapang dan Khamir di Bidang Pangan
1.    Manfaat Kapang di bidang pangan
Kapang merupakan salah satu mikroorganisme yang merugikan, selain dapat menyebabkan gannguan kesehatan juga dapat merusak bahan makanan seperti pembusukan. Akan tetapi pada umumnya kapang yang tumbuh pada makanan yang diolah dengan panas tidak menyebabkan penyakit pada manusia, bahkan digunakan dalam pengolahan bahan makanan. Beberapa jenis kapang yang dapat dimanfaatkan pembuatan bahan makanan antara lain:
a.       Rhizopus Oligospora (dimanfaatkan dalam pembuatan tempe dan pembuatan oncom hitam)
b.      Rhizopus Oryzae (digunakan dalam pembuatan tempe)
c.       Neurospora sitophia (digunakan dalam pembuatan oncom merah)
d.      Aspergillus Oryzae (digunakan dalam pembuatan kecap dan tauco)
e.       Rhizopus, Aspergillus, khamir( tape)
f.       Penicililium roqueforti (Keju biru)
g.      P. camemberti (keju camembert)

2.    Manfaat Khamir di bidang pangan
Dengan memperhatikan aktivitas yeast yang sangat reaktif dan beragam terhadap bahan makanan, maka dapat dikatakan yeast mempunyai potensi yang besar selain sebagai agen fermentasi, dapat memberi perubahan yang sangat signifikan baik dalam rasa, aroma maupun tekstur dari pangan tersebut. Seperti kita lihat selain pada pembuatan roti dan minuman yang beraroma alkohol, atau dari sayur dan buah fermentasi. Orang-orang Mesir zaman dahulu telah menggunakan yeast dan proses fermentasi dalam memproduksi minuman beralkohol dan membuat roti pada lebih dari 5000 tahun yang lalu.Setelah ditemukannya mikroskop Louis Pasteur pada akhir tahun 1860 menyimpulkan bahwa yeast merupakan mikroba hidup yangbertindak sebagai agen dalam proses fermentasi dan digunakan sejak zaman dahulu untuk menaikan adonan roti.
 Tidak lama setelah penemuan tersebut, dilakukan upaya untuk mengisolasi yeast secara murni. Dengan kemampuan ini mulailah dilakukan produksi yeast secara komersial untuk keperluan pembuatan roti. Jenis yang dikembangkan adalah Saccharomycescerevisiae  yang disebut dengan Baker·s yeasts.
Secara umum pemanfaatan yeast dalam mengembangkan produk pangan dapat diketahui seperti di bawah ini :
a.  Susu dan produk olahannya
Beberapa contoh produk yang dihasilkan oleh Khamir:
Produk
Yeast spesies
Susu segar, pasteurisasi
Rhodotorula spp., Candida famata, C. diffluens, C. curvata, Kluyveromyces marxianus, Cryptococcus flavus.
Mentega
Rhodotorula rubra, R. glutinis, Candida famata, C. diffluens, C. lipolytica, Cryptococcus laurentii.
Yogurt
Kluyveromyces marxianus, Candida famata,
Debaryomyces hansenii, Saccharomyces cerevisiae,
Hansenula anomala

Keju Cottage dan segar
Kluyveromyces marxianus, C. lipolytica, Candida famata
dan Candida yang lain, Debaryomyces hansenii,
Cryptococcus laurentii, Sporobolmyces roseus.
Keju lunak dimatangkan dengan jamur (mold)

Kluyveromyces marxianus, Candida famata, Candida
lipolytica, Pichia membranafaciens, P. fermentans,
Debaryomyces hansenii, Saccharomyces cerevisiae,
Zigosaccharomyces rouxii.
b.   Daging dan produk olahannya
Produk
Yeast spesies
Daging segar merah dan unggas
Candida spp., Rhodotorula spp., Debaryomyces spp., Trichosporon (jarang diteliti).
Daging Domba beku
Cryptococcus laurentii, Candida zeylanoides,
Trichosporon pullulans.
Daging kalkun beku
Cryptococcus laurentii, Candida zeylanoides.
Daging potong atau cincang
Candida lipolytica, C. zeylanoides, C. lambica, C. sake, Cryptococcus laurentii, Debaryomyces hansenii, Pichia membranaefaciens.
Daging yang diolah (sosis, ham)
Debaryomyces hansenii, Candida spp., Rhodotorula spp.

C.  Pemanfaatan Kapang dan Khamir dalam bidang nonpangan
1.    Pemanfaatan Kapang
Selain dimanfaatkan dalam bidang industri pangan kapang juga sangat bermanfaat dalam bidang nonpangan. Pemanfaatan kapang dalam bidang industri non pangan adalah sebagai berikut:
a)    Asam sitrat selain digunakan dalam obat-obatan (transfusi darah), juga digunakan dalam industri tinta dan cat. Dalam hal ini jenis kapang yang berperan penting adalah Asperigillus neger dan A.wentii.
b)   Asam glukonat salah satu produk yang dimanfaatkan dalam bidang farmasi fotografi dan tekstil. Jenis kapang yang digunakan dalam memproduksi asam glukonat adalah A.Niger.

2.    Pemanfaatan Khamir
Khamir merupakan salah satu mikroorganisme yang telah diproduksi secara komersial. Salah satu manfaat utama dari ragi atau khamir adalah pembentukan alkohol dari bahan baku karbohidrat. Selain dimanfaatkan dalam industri pangan seperti pembuatan minuman, roti dan bir, ragi juga dimanfaatkan dalam bidang nonpangan. Beberapa contoh khamir yang dimanfaatkan dalam bidang nonpangan antara lain:
a)      Saccharomycopsis lipolityca digunakan untuk memproduksi protein mikroba dari produk minyak tanah
b)      Candida utilis digunakan untuk memproduksi Riboflavin dari limbah industri kertas.